Psikologi Investasi: Mengatasi Volatilitas Pasar dengan Tenang dan Rasional

Pernahkah Anda panik melihat portofolio investasi merah menyala saat pasar bergejolak? Atau sebaliknya, terlalu euforia ketika harga melambung tinggi hingga mengambil keputusan impulsif?

Akademi Investor
Akademi Investor
15 menit baca
Psikologi Investasi: Mengatasi Volatilitas Pasar dengan Tenang dan Rasional

Pernahkah Anda panik melihat portofolio investasi merah menyala saat pasar bergejolak? Atau sebaliknya, terlalu euforia ketika harga melambung tinggi hingga mengambil keputusan impulsif? Volatilitas pasar adalah realitas yang tidak bisa dihindari dalam dunia investasi, dan cara Anda meresponsnya secara psikologis akan menentukan kesuksesan jangka panjang Anda sebagai investor.

Volatilitas pasar bukan hanya tentang angka yang naik turun di layar trading Anda. Ini adalah ujian mental yang menguji ketahanan emosional, disiplin, dan kemampuan Anda untuk tetap berpegang pada strategi investasi meski dalam tekanan. Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana psikologi mempengaruhi keputusan investasi Anda di tengah gejolak pasar, serta strategi praktis untuk mengelola emosi dan tetap rasional dalam menghadapi ketidakpastian.

Memahami Volatilitas Pasar dan Dampaknya terhadap Psikologi Investor

Apa Itu Volatilitas Pasar?

Volatilitas pasar adalah ukuran seberapa besar dan seberapa cepat harga aset berfluktuasi dalam periode tertentu. Semakin tinggi volatilitas, semakin besar pula pergerakan harga naik turun yang terjadi. Volatilitas bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi makro, kebijakan pemerintah, sentimen pasar, hingga peristiwa global yang tidak terduga seperti pandemi atau konflik geopolitik.

Untuk investor pemula, volatilitas sering kali terasa menakutkan karena menciptakan ketidakpastian. Namun, bagi investor berpengalaman, volatilitas justru bisa menjadi peluang untuk mendapatkan aset dengan harga yang lebih murah atau merealisasikan keuntungan di momentum yang tepat.

Respons Emosional Terhadap Volatilitas

Otak manusia memiliki respons biologis terhadap ancaman dan ketidakpastian. Ketika melihat portofolio merah, sistem limbik otak kita yang mengatur emosi akan memicu respons “fight or flight” (lawan atau lari). Ini menyebabkan:

  • Rasa takut berlebihan yang mendorong investor untuk menjual aset saat harga sedang turun (panic selling)
  • Keserakahan yang membuat investor membeli lebih banyak tanpa analisis matang saat pasar sedang naik
  • Kecemasan berkepanjangan yang mengganggu tidur dan kesehatan mental
  • Paralisis keputusan di mana investor tidak berani mengambil tindakan apa pun

Penelitian di bidang behavioral finance menunjukkan bahwa kerugian terasa dua kali lebih menyakitkan dibandingkan kesenangan dari keuntungan dengan nilai yang sama. Fenomena ini disebut loss aversion dan merupakan salah satu bias kognitif paling kuat yang mempengaruhi keputusan investasi.

Siklus Emosional Investor dalam Pasar Volatil

Sebagian besar investor melewati siklus emosional yang dapat diprediksi saat menghadapi volatilitas:

  1. Optimisme – Saat pasar mulai naik, investor merasa optimis tentang prospek investasi
  2. Euforia – Ketika pasar terus naik, investor merasa invincible dan mengabaikan risiko
  3. Kecemasan – Pasar mulai turun, kekhawatiran mulai muncul
  4. Denial – Investor menolak menerima kenyataan bahwa investasi mereka sedang merugi
  5. Panik – Ketika penurunan berlanjut, kepanikan mendorong keputusan irasional
  6. Kapitulasi – Investor menyerah dan menjual semua aset di harga rendah
  7. Depresi – Menyesal atas keputusan yang telah dibuat
  8. Harapan – Mulai melihat peluang lagi saat pasar stabil
  9. Relief – Merasa lega ketika pasar mulai pulih

Memahami siklus ini membantu Anda mengenali di tahap mana Anda berada dan mengambil langkah untuk tidak terjebak dalam keputusan emosional.

Bias Kognitif yang Mempengaruhi Keputusan Investasi

Recency Bias: Terlalu Fokus pada Informasi Terbaru

Recency bias membuat investor memberikan bobot berlebihan pada informasi atau peristiwa terbaru sambil mengabaikan data historis jangka panjang. Misalnya, setelah melihat pasar turun tiga hari berturut-turut, investor mungkin yakin bahwa tren penurunan akan terus berlanjut, padahal data jangka panjang menunjukkan pasar cenderung recovery setelah koreksi.

Cara mengatasi: Selalu lihat konteks yang lebih besar. Pelajari pergerakan historis aset yang Anda miliki dalam jangka waktu 5-10 tahun, bukan hanya beberapa minggu atau bulan terakhir.

Confirmation Bias: Mencari Informasi yang Mendukung Keyakinan

Confirmation bias adalah kecenderungan untuk mencari, menginterpretasi, dan mengingat informasi yang mengkonfirmasi belief yang sudah ada sambil mengabaikan informasi yang bertentangan. Jika Anda yakin suatu saham akan naik, Anda cenderung hanya membaca berita positif tentang perusahaan tersebut dan mengabaikan red flags.

Cara mengatasi: Aktif mencari perspektif yang berbeda. Baca analisis dari berbagai sumber, termasuk yang skeptis terhadap investasi Anda. Buat daftar pro dan kontra secara objektif sebelum mengambil keputusan.

Herd Mentality: Mengikuti Massa

Manusia adalah makhluk sosial yang cenderung merasa aman dengan mengikuti kelompok. Dalam investasi, ini terlihat ketika investor berbondong-bondong membeli aset yang sedang trending atau menjual massal saat pasar crash. Perilaku ini sering kali kontraproduktif karena Anda membeli di harga tinggi dan menjual di harga rendah.

Cara mengatasi: Kembangkan independent thinking. Sebelum mengikuti rekomendasi populer atau tren pasar, lakukan analisis sendiri. Ingat quotes Warren Buffett: “Be fearful when others are greedy, and greedy when others are fearful.”

Anchoring Bias: Terpaku pada Harga Referensi

Anchoring terjadi ketika investor terlalu fokus pada harga pembelian awal sebagai titik referensi untuk semua keputusan selanjutnya. Misalnya, jika Anda membeli saham di harga Rp 10.000 dan sekarang harganya Rp 7.000, Anda mungkin menolak menjual karena “belum impas,” padahal fundamental perusahaan sudah memburuk.

Cara mengatasi: Evaluasi setiap investasi berdasarkan prospek masa depannya, bukan harga masa lalu. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya akan membeli aset ini di harga sekarang jika belum memilikinya?”

Strategi Psikologis Menghadapi Volatilitas Pasar

Membangun Investment Plan yang Solid

Sebelum volatilitas melanda, Anda harus sudah memiliki rencana investasi yang jelas. Rencana ini mencakup:

  • Tujuan investasi yang spesifik, terukur, dan memiliki time horizon jelas
  • Alokasi aset yang sesuai dengan profil risiko Anda
  • Kriteria entry dan exit yang objektif
  • Strategi rebalancing portofolio secara berkala
  • Emergency fund yang terpisah dari investasi

Dengan rencana yang sudah tersusun, Anda memiliki panduan untuk diikuti saat emosi mulai mengambil alih. Ini seperti memiliki autopilot yang membantu Anda tetap di jalur yang benar.

Praktik Mindfulness dan Emotional Awareness

Mindfulness adalah kemampuan untuk menyadari pikiran dan emosi Anda tanpa langsung bereaksi terhadapnya. Dalam konteks investasi, ini berarti:

Latihan untuk meningkatkan mindfulness:

  • Sebelum membuka aplikasi trading, ambil tiga napas dalam untuk menenangkan diri
  • Catat emosi yang Anda rasakan ketika melihat portofolio (takut, serakah, cemas, euforia)
  • Tunda keputusan penting 24-48 jam untuk memberikan waktu bagi respons emosional mereda
  • Meditasi 10 menit sehari untuk melatih kemampuan mengobservasi pikiran tanpa terhanyut olehnya

Batasi Eksposur terhadap Noise Pasar

Information overload adalah musuh besar investor di era digital. Terlalu sering memantau harga, membaca berita breaking news setiap jam, atau mengikuti berbagai grup trading bisa memicu kecemasan dan mendorong overtrading.

Rekomendasi praktis:

  • Tetapkan jadwal untuk cek portofolio (misalnya seminggu sekali atau sebulan sekali untuk investor jangka panjang)
  • Unfollow akun media sosial yang selalu membuat Anda panik atau FOMO
  • Fokus pada sumber informasi berkualitas tinggi daripada mengejar setiap headline
  • Matikan notifikasi price alert kecuali untuk kondisi yang benar-benar kritis

Diversifikasi untuk Mengurangi Anxiety

Diversifikasi bukan hanya strategi manajemen risiko finansial, tetapi juga strategi psikologis. Ketika portofolio Anda terdiversifikasi dengan baik di berbagai kelas aset, sektor, dan geografi, penurunan di satu area tidak akan menghancurkan seluruh investasi Anda.

Prinsip diversifikasi psikologis:

  • Alokasikan dana di berbagai aset dengan korelasi rendah (saham, obligasi, emas, properti)
  • Jangan menaruh lebih dari 5-10% portofolio di satu saham individu
  • Kombinasikan investasi aktif dan pasif (misalnya individual stocks dan index funds)
  • Pertimbangkan investasi aman untuk investor konservatif jika profil risiko Anda rendah

Fokus pada Time Horizon dan Long-term Perspective

Volatilitas jangka pendek terasa menyakitkan, tetapi hampir tidak terlihat dalam grafik jangka panjang. Investor yang fokus pada tujuan 20-30 tahun ke depan akan lebih mudah mengabaikan fluktuasi harian atau bulanan.

Cara mempertahankan perspektif jangka panjang:

  • Visualisasikan tujuan finansial Anda (pensiun nyaman, pendidikan anak, financial freedom)
  • Pelajari sejarah pasar yang menunjukkan bahwa pasar selalu recovery setelah crash
  • Hitung berapa lama lagi Anda butuh investasi untuk mencapai tujuan, bukan berapa untung/rugi hari ini
  • Terapkan strategi dollar cost averaging untuk mengurangi tekanan timing the market

Teknik Praktis Mengelola Emosi Saat Pasar Volatil

Journaling: Dokumentasi Keputusan dan Emosi

Membuat investment journal bukan hanya untuk mencatat transaksi, tetapi juga untuk merekam kondisi emosional dan rasional di balik setiap keputusan. Format journal bisa mencakup:

Template Investment Journal:

TanggalKeputusanAlasan RasionalEmosi Saat ItuHasilPelajaran
15 Jan 2026Beli BBCAValuasi menarik, fundamental kuatAgak ragu karena pasar turunTBDTBD

Dengan journaling, Anda bisa melihat pola perilaku Anda sendiri, mengenali trigger emosional, dan belajar dari kesalahan masa lalu. Ini adalah salah satu tools paling powerful untuk self-improvement sebagai investor.

Pre-commitment Strategy: Tetapkan Rules Sebelumnya

Pre-commitment adalah teknik di mana Anda menetapkan aturan ketat sebelum volatilitas terjadi dan berkomitmen untuk mengikutinya apa pun yang terjadi. Contoh:

  • “Saya akan menjual saham jika turun 20% dari harga beli, tanpa pengecualian”
  • “Saya hanya akan rebalancing portofolio setiap kuartal, tidak peduli berapa besar fluktuasi di antaranya”
  • “Saya tidak akan membeli saham baru dalam 48 jam setelah membaca berita viral”

Dengan rules yang sudah ditetapkan di saat pikiran jernih, Anda mengurangi beban cognitive load saat harus membuat keputusan di tengah chaos.

Teknik Grounding untuk Mengatasi Panic

Ketika Anda merasa panic attack karena melihat portofolio anjlok, gunakan teknik grounding untuk mengembalikan diri ke present moment:

Teknik 5-4-3-2-1:

  • Sebutkan 5 hal yang bisa Anda lihat
  • Sebutkan 4 hal yang bisa Anda sentuh
  • Sebutkan 3 hal yang bisa Anda dengar
  • Sebutkan 2 hal yang bisa Anda cium
  • Sebutkan 1 hal yang bisa Anda kecap

Teknik ini mengalihkan fokus otak dari mode panic ke mode observasi, membantu Anda kembali tenang dan berpikir rasional.

Cari Support System yang Tepat

Memiliki komunitas atau mentor yang bisa memberikan perspektif objektif sangat membantu. Namun, hati-hati memilih support system:

Support system yang baik:

  • Teman investor yang lebih berpengalaman dan tidak mudah panik
  • Financial advisor profesional yang bisa memberikan saran objektif
  • Komunitas investor dengan filosofi investasi yang sejalan dengan Anda

Support system yang sebaiknya dihindari:

  • Grup trading yang full dengan FOMO dan hype
  • Forum yang penuh dengan doom and gloom pessimism
  • Orang-orang yang selalu menyalahkan pasar atas kerugian mereka

Mengubah Volatilitas Menjadi Peluang

Reframing: Mengubah Perspektif terhadap Volatilitas

Alih-alih melihat volatilitas sebagai ancaman, cobalah reframe sebagai peluang:

  • Market crash = sale besar-besaran untuk membeli aset berkualitas dengan diskon
  • Volatilitas tinggi = kesempatan untuk mempraktikkan disiplin dan emotional control
  • Koreksi pasar = ujian untuk validasi strategi investasi Anda

Investor legendaris seperti Warren Buffett dan Howard Marks justru paling aktif saat pasar sedang chaos karena mereka tahu di situlah peluang terbaik berada.

Strategi Dollar Cost Averaging Saat Volatilitas Tinggi

Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi membeli aset secara rutin dengan nominal yang sama, terlepas dari harga. Strategi ini sangat efektif untuk mengurangi tekanan psikologis karena:

  • Anda tidak perlu stress tentang timing the market
  • Otomatis membeli lebih banyak saat harga turun dan lebih sedikit saat harga naik
  • Menghilangkan regret dari membeli di “harga salah”
  • Membangun kebiasaan investasi disiplin

Pelajari lebih lanjut tentang strategi DCA dan bagaimana mengimplementasikannya dengan efektif.

Opportunistic Buying dengan Dana Siaga

Jika Anda sudah membangun dana darurat yang cukup, pertimbangkan untuk menyisihkan “dana siaga investasi” khusus untuk memanfaatkan peluang saat market crash. Dana ini:

  • Terpisah dari dana darurat dan investasi rutin
  • Hanya digunakan saat terjadi koreksi signifikan (misalnya penurunan 20% atau lebih)
  • Dialokasikan untuk membeli aset berkualitas tinggi yang Anda sudah riset sebelumnya
  • Memberikan psychological satisfaction bahwa Anda “mengalahkan pasar”

Kapan Harus Seek Professional Help

Tanda-tanda Investasi Mempengaruhi Kesehatan Mental

Ada garis tipis antara being engaged dengan investasi dan menjadi obsesif sampai merusak kesehatan mental. Segera cari bantuan profesional jika:

  • Anda kehilangan tidur secara konsisten karena memikirkan investasi
  • Investasi menyebabkan konflik serius dalam hubungan personal
  • Anda merasa cemas atau depresi sepanjang waktu
  • Anda melakukan revenge trading atau gambling behavior
  • Kesehatan fisik terganggu (sakit kepala, masalah pencernaan, tekanan darah tinggi)

Kesehatan mental Anda jauh lebih berharga daripada return investasi mana pun.

Peran Financial Advisor dan Psychologist

Jangan ragu untuk mencari bantuan dari:

Financial Advisor: Untuk membantu menyusun strategi investasi yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan Anda, serta memberikan perspektif objektif saat Anda terlalu emosional.

Therapist/Psychologist: Jika kecemasan atau stress terkait investasi sudah mengganggu fungsi harian Anda. Terapi Cognitive Behavioral Therapy (CBT) khususnya efektif untuk mengatasi anxiety dan mengubah pola pikir negatif.

Membangun Mental Resilience Jangka Panjang

Pendidikan Finansial Berkelanjutan

Semakin banyak pengetahuan yang Anda miliki tentang cara kerja pasar, fundamental analysis, dan strategi investasi, semakin percaya diri dan tenang Anda menghadapi volatilitas.

Sumber pembelajaran yang direkomendasikan:

  • Buku klasik: “The Intelligent Investor” oleh Benjamin Graham, “A Random Walk Down Wall Street” oleh Burton Malkiel
  • Podcast investasi yang edukatif
  • Course online tentang behavioral finance
  • Artikel dan panduan di Akademi Investor untuk berbagai topik dari pemula hingga advanced

Simulasi dan Mental Rehearsal

Seperti atlet yang berlatih menghadapi berbagai skenario pertandingan, investor juga bisa melakukan mental rehearsal:

  • Bayangkan skenario worst-case: portofolio turun 50%. Apa yang akan Anda lakukan?
  • Praktikkan respons emosional yang Anda inginkan di skenario tersebut
  • Visualisasikan diri Anda tetap tenang dan mengikuti rencana investasi
  • Review kembali simulasi ini secara berkala

Ketika volatilitas sungguhan terjadi, otak Anda sudah terlatih dengan respons yang benar.

Merayakan Small Wins dan Belajar dari Mistakes

Celebrate wins:

  • Berhasil tidak panic selling saat pasar crash? Itu achievement besar!
  • Berhasil stick dengan rencana DCA meski tergoda FOMO? Beri reward pada diri sendiri
  • Portfolio performance di atas benchmark? Acknowledge pencapaian itu

Learn from mistakes:

  • Melakukan panic selling? Analisis apa yang memicu keputusan itu dan bagaimana mencegahnya
  • Terlalu confident dan overleveraged? Pelajari tentang manajemen risiko
  • Mengikuti herd mentality? Kembangkan framework untuk independent thinking

Setiap pengalaman, baik positif maupun negatif, adalah data yang membuat Anda menjadi investor yang lebih baik.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Psikologi Investasi dan Volatilitas

1. Apakah wajar merasa takut saat melihat portofolio turun drastis?

Sangat wajar. Rasa takut adalah respons biologis terhadap ancaman. Yang penting adalah bagaimana Anda merespons rasa takut tersebut. Alih-alih langsung menjual, beri diri Anda waktu untuk berpikir rasional. Tanyakan: apakah fundamental investasi saya berubah? Apakah tujuan jangka panjang saya berubah? Jika tidak, maka volatilitas jangka pendek tidak seharusnya mengubah strategi Anda.

2. Berapa sering saya harus cek portofolio investasi?

Frekuensi ideal tergantung pada strategi dan time horizon Anda. Untuk investor jangka panjang dengan horizon 10+ tahun, cukup cek sebulan sekali atau bahkan kuartalan. Semakin sering Anda cek, semakin besar kemungkinan Anda melihat volatilitas yang memicu kecemasan dan keputusan impulsif. Untuk trader aktif, tentu frekuensinya lebih tinggi, tapi tetap harus dengan rules yang jelas, bukan karena anxiety.

3. Bagaimana cara mengatasi FOMO (Fear of Missing Out) saat semua orang profit dari saham tertentu?

FOMO adalah salah satu emosi paling destruktif dalam investasi. Cara mengatasinya: (1) Ingat bahwa akan selalu ada peluang lain, (2) Fokus pada strategi Anda sendiri, bukan membandingkan dengan orang lain, (3) Understand bahwa Anda hanya melihat success stories, tidak semua yang rugi, (4) Tanyakan apakah aset tersebut fit dengan risk profile dan tujuan Anda, bukan karena sedang trending. Pelajari tentang bias kognitif dalam trading untuk memahami lebih dalam.

4. Apakah saya harus cut loss jika investasi saya terus merugi?

Ini tergantung pada alasan Anda membeli aset tersebut. Jika fundamental perusahaan atau aset masih solid dan penurunan disebabkan sentimen pasar yang sementara, holding atau bahkan averaging down bisa masuk akal. Namun jika fundamental sudah rusak atau ternyata analisis awal Anda salah, cut loss adalah keputusan bijak untuk preserve capital. Kuncinya adalah membuat keputusan berdasarkan analisis objektif, bukan emosi. Baca lebih lanjut tentang kapan waktu tepat cut loss.

5. Bagaimana cara tetap disiplin dengan rencana investasi saat semua orang panik?

Disiplin adalah muscle yang harus dilatih. Beberapa strategi: (1) Tulis rencana investasi Anda saat pikiran jernih dan tempel di tempat yang mudah dilihat, (2) Gunakan automation untuk investasi rutin sehingga tidak perlu bergantung pada discipline manual, (3) Cari accountability partner atau mentor yang bisa remind Anda untuk stick dengan rencana, (4) Review kembali tujuan jangka panjang Anda untuk regain perspective, (5) Praktikkan mindfulness untuk tidak terhanyut emosi massa.

6. Apakah normal jika saya merasa stress berkepanjangan karena investasi?

Stress ringan adalah normal, tetapi stress berkepanjangan yang mengganggu tidur, kesehatan, atau hubungan personal adalah red flag. Ini bisa menjadi tanda bahwa: (1) Risk exposure Anda terlalu tinggi untuk comfort level Anda, (2) Anda terlalu fokus pada investasi, (3) Anda butuh better education untuk memahami apa yang terjadi. Pertimbangkan untuk mengurangi exposure, mencari bantuan profesional, atau shift ke strategi investasi yang lebih passive dan less stressful seperti index investing.

7. Bagaimana cara membangun confidence sebagai investor pemula?

Confidence dibangun melalui kombinasi pengetahuan dan pengalaman. Mulai dengan: (1) Edukasi diri tentang dasar-dasar investasi melalui buku, course, atau artikel berkualitas, (2) Start small dengan jumlah yang Anda mampu untuk lose tanpa mengganggu financial security, (3) Buat simple investment plan dan stick dengan it, (4) Track performance dan learn from both successes and mistakes, (5) Bergabung dengan komunitas investor yang supportive dan edukatif. Remember, semua investor besar pernah menjadi pemula. Yang membedakan adalah mereka terus belajar dan berkembang.

Kesimpulan: Menguasai Psikologi adalah Kunci Kesuksesan Investasi Jangka Panjang

Volatilitas pasar adalah bagian inheren dari investasi yang tidak bisa dihilangkan. Yang bisa Anda kendalikan adalah bagaimana Anda merespons secara psikologis dan emosional terhadap gejolak tersebut. Investor sukses bukan mereka yang tidak pernah merasa takut atau serakah, tetapi mereka yang telah melatih diri untuk mengenali emosi tersebut dan tetap berpegang pada strategi rasional meski dalam tekanan.

Kuncinya adalah persiapan mental sebelum volatilitas terjadi. Bangun investment plan yang solid, pahami profil risiko Anda, diversifikasi portofolio dengan bijak, dan komit untuk perspektif jangka panjang. Latih mindfulness dan emotional awareness untuk tidak reaktif terhadap fluktuasi harian. Edukasi diri tentang behavioral finance agar bisa mengenali dan mengatasi bias kognitif yang mempengaruhi keputusan Anda.

Ingatlah bahwa investasi adalah marathon, bukan sprint. Kesuksesan diukur dalam dekade, bukan hari atau minggu. Volatilitas yang terasa menakutkan hari ini akan menjadi noise yang tidak signifikan dalam grafik jangka panjang perjalanan finansial Anda. Yang penting adalah tetap konsisten, terus belajar dari pengalaman, dan tidak membiarkan emosi jangka pendek menghancurkan tujuan jangka panjang Anda.

Mulai sekarang, ambil tindakan:

  • Evaluasi kembali investment plan Anda dan pastikan sesuai dengan risk tolerance
  • Praktikkan journaling untuk meningkatkan self-awareness
  • Batasi eksposur terhadap noise pasar yang memicu anxiety
  • Fokus pada hal-hal yang bisa Anda kontrol, bukan hasil jangka pendek
  • Terus tingkatkan financial literacy melalui sumber berkualitas

Kunjungi Akademi Investor untuk lebih banyak panduan, tools, dan resources yang membantu Anda menjadi investor yang lebih bijak dan tenang dalam menghadapi segala kondisi pasar. Kesuksesan investasi dimulai dari penguasaan diri sendiri.

#behavioral finance#emosi trading#investor pemula#manajemen risiko investasi#mengatasi panic selling#mindset investor#psikologi investasi#strategi investasi jangka panjang#volatilitas pasar
Share:

Artikel Terkait

Pelajari lebih lanjut tentang topik serupa

14 min read

Psikologi Investasi: Memahami Fear & Greed Cycle untuk Keputusan Investasi yang Lebih Rasional

Pernahkah Anda merasa panik menjual saham saat pasar merah total, lalu menyesal karena harganya melonjak kembali? Atau justru terlalu percaya diri membeli saat pasar sedang euforia, ternyata harga malah terjun bebas? Anda tidak sendirian.

Akademi Investor
Akademi Investor
#behavioral finance#emosi trading#fear and greed
Read article: Psikologi Investasi: Memahami Fear & Greed Cycle untuk Keputusan Investasi yang Lebih Rasional
18 min read

Auto-Invest dan DCA (Dollar Cost Averaging): Strategi Investasi Autopilot untuk Raih Cuan Konsisten Tanpa Ribet

Pernahkah Anda merasa bingung kapan waktu yang tepat untuk membeli saham atau reksa dana? Atau mungkin Anda terlalu sibuk sampai lupa untuk berinvestasi secara rutin?

Akademi Investor
Akademi Investor
#auto invest#cara investasi mudah#DCA
Read article: Auto-Invest dan DCA (Dollar Cost Averaging): Strategi Investasi Autopilot untuk Raih Cuan Konsisten Tanpa Ribet