Pernikahan bukan hanya tentang cinta dan komitmen, tetapi juga tentang membangun fondasi keuangan yang solid bersama pasangan. Faktanya, konflik keuangan menjadi salah satu penyebab utama pertengkaran dalam rumah tangga baru. Menurut survei, hampir 35% pasangan mengaku bertengkar tentang uang di tahun pertama pernikahan mereka. Namun, kabar baiknya adalah dengan anggaran keuangan untuk pasangan baru menikah yang tepat, Anda bisa menghindari drama finansial dan membangun masa depan yang lebih cerah.
Artikel ini akan memandu Anda langkah demi langkah dalam menciptakan sistem pengelolaan keuangan yang harmonis, transparan, dan efektif untuk kehidupan rumah tangga baru Anda. Mari kita mulai perjalanan finansial yang lebih terencana!
Mengapa Anggaran Keuangan Penting untuk Pasangan Baru Menikah?
Banyak pasangan yang meremehkan pentingnya perencanaan keuangan di awal pernikahan. Mereka berpikir bahwa cinta akan mengatasi segalanya, termasuk masalah uang. Namun, realitanya berbeda.
Fondasi Keuangan yang Kuat = Rumah Tangga yang Harmonis
Anggaran keuangan bukan sekadar daftar pengeluaran dan pemasukan. Ini adalah alat komunikasi yang membantu pasangan memahami prioritas finansial masing-masing, membangun tujuan bersama, dan menghindari kesalahpahaman yang bisa berujung pada konflik.
Beberapa alasan mengapa anggaran keuangan sangat krusial:
- Transparansi Finansial: Kedua pasangan tahu persis kemana uang mengalir
- Mengurangi Stres: Perencanaan yang baik mengurangi kekhawatiran tentang tagihan dan kebutuhan mendadak
- Mencapai Tujuan Bersama: Baik itu membeli rumah, traveling, atau dana pendidikan anak
- Menghindari Hutang Konsumtif: Dengan anggaran yang jelas, Anda lebih disiplin dalam pengeluaran
- Membangun Tabungan: Prioritas menabung menjadi lebih mudah dengan sistem yang terstruktur
Statistik yang Perlu Diketahui
Berdasarkan data dari berbagai studi keuangan keluarga (mohon diverifikasi untuk data terkini):
- 70% pasangan mengalami stres finansial di tahun pertama pernikahan
- Pasangan yang membuat anggaran bersama memiliki tingkat kepuasan pernikahan 20% lebih tinggi
- 60% pasangan tidak pernah mendiskusikan keuangan secara detail sebelum menikah
Tips Penting: Jangan pernah menyembunyikan hutang atau masalah keuangan dari pasangan Anda. Transparansi adalah kunci dari manajemen keuangan yang sehat dalam pernikahan.
Langkah Pertama: Komunikasi Terbuka tentang Keuangan
Sebelum membuat anggaran, Anda dan pasangan perlu melakukan “financial heart-to-heart” yang jujur dan terbuka. Ini adalah fondasi dari semua perencanaan keuangan yang akan Anda buat.
Topik yang Harus Didiskusikan
1. Latar Belakang Keuangan Masing-masing
- Bagaimana keluarga Anda masing-masing mengelola uang?
- Apakah Anda tumbuh dalam keluarga yang hemat atau konsumtif?
- Pengalaman finansial apa yang membentuk cara pandang Anda tentang uang?
2. Hutang dan Kewajiban Finansial
- Apakah salah satu dari Anda memiliki pinjaman pendidikan, KTA, atau kartu kredit?
- Berapa total hutang yang perlu dilunasi?
- Apakah ada tanggungan keluarga yang perlu dibiayai?
3. Gaya Hidup dan Pengeluaran
- Apakah Anda termasuk orang yang suka menabung atau lebih spontan dalam berbelanja?
- Apa yang menjadi prioritas pengeluaran masing-masing?
- Berapa budget yang nyaman untuk “uang jajan” pribadi?
4. Tujuan Finansial Jangka Pendek dan Panjang
- Apa impian finansial Anda dalam 1, 5, dan 10 tahun ke depan?
- Apakah ingin punya rumah sendiri? Kapan?
- Bagaimana rencana untuk pendidikan anak nantinya?
Cara Melakukan Diskusi yang Efektif
Berikut beberapa tips agar diskusi keuangan tidak berujung pertengkaran:
- Pilih Waktu yang Tepat: Jangan bahas uang saat salah satu sedang lelah atau stres
- Dengarkan Tanpa Menghakimi: Setiap orang punya cara pandang berbeda tentang uang
- Fokus pada Solusi: Bukan saling menyalahkan
- Buat Kesepakatan Bersama: Kompromi adalah kunci
- Jadwalkan Meeting Finansial Rutin: Minimal sebulan sekali untuk evaluasi
Memilih Sistem Pengelolaan Uang yang Tepat
Ada beberapa metode yang bisa dipilih pasangan dalam mengelola keuangan bersama. Tidak ada sistem yang sempurna untuk semua orang—pilih yang paling sesuai dengan kondisi dan kepribadian Anda berdua.
1. Sistem Rekening Gabungan (Joint Account)
Semua penghasilan digabung dalam satu rekening bersama, dan semua pengeluaran diambil dari rekening tersebut.
Kelebihan:
- Transparansi penuh
- Mudah untuk tracking pengeluaran
- Cocok untuk pasangan dengan penghasilan dan nilai finansial yang selaras
Kekurangan:
- Kurang privasi pribadi
- Potensi konflik jika gaya belanja berbeda
2. Sistem Rekening Terpisah dengan Kontribusi Proporsional
Masing-masing memiliki rekening pribadi, tetapi berkontribusi ke rekening bersama sesuai proporsi penghasilan untuk biaya rumah tangga.
Kelebihan:
- Tetap ada kebebasan finansial pribadi
- Adil berdasarkan kemampuan masing-masing
- Cocok untuk pasangan dengan perbedaan penghasilan signifikan
Kekurangan:
- Perlu perhitungan yang jelas
- Bisa kurang transparan jika tidak dikomunikasikan dengan baik
3. Sistem Hybrid (Gabungan dan Terpisah)
Rekening bersama untuk kebutuhan rumah tangga, plus rekening pribadi untuk pengeluaran individual.
Kelebihan:
- Keseimbangan antara transparansi dan privasi
- Fleksibel dan bisa disesuaikan
- Paling populer di kalangan pasangan modern
Kekurangan:
- Perlu manajemen lebih kompleks
- Harus jelas pembagian mana yang joint, mana yang pribadi
Rekomendasi: Untuk pasangan baru menikah, sistem hybrid sering menjadi pilihan terbaik karena memberikan keseimbangan antara kebersamaan dan kebebasan pribadi.
Cara Membuat Anggaran Keuangan Bulanan yang Efektif
Setelah menentukan sistem pengelolaan uang, saatnya membuat anggaran keuangan bulanan yang konkret. Berikut langkah-langkahnya:
Langkah 1: Hitung Total Penghasilan Bersih
Catat semua sumber penghasilan setelah dipotong pajak dan iuran:
- Gaji pokok suami
- Gaji pokok istri
- Bonus atau tunjangan
- Pendapatan sampingan (freelance, bisnis, passive income)
Contoh:
Gaji Suami (bersih): Rp 8.000.000
Gaji Istri (bersih): Rp 6.500.000
Freelance Istri: Rp 1.500.000
-------------------------------------------
Total Penghasilan: Rp 16.000.000
Langkah 2: Catat Semua Pengeluaran Tetap
Ini adalah pengeluaran yang jumlahnya relatif sama setiap bulan:
- Cicilan rumah/KPR atau sewa rumah
- Cicilan kendaraan
- Asuransi (kesehatan, jiwa, kendaraan)
- Tagihan listrik, air, internet
- Iuran BPJS atau asuransi swasta
- Dana untuk orang tua (jika ada)
Langkah 3: Estimasi Pengeluaran Variabel
Pengeluaran yang berubah-ubah setiap bulan:
- Belanja dapur dan kebutuhan sehari-hari
- Transportasi dan bensin
- Pulsa dan paket data
- Makan di luar atau pesan makanan
- Perawatan diri (salon, barbershop)
- Hiburan dan hobi
- Pengeluaran sosial (arisan, kado)
Langkah 4: Tentukan Pos Tabungan dan Investasi
Ini adalah bagian terpenting yang sering dilupakan. Gunakan prinsip “Pay Yourself First” – sisihkan untuk tabungan dan investasi dulu sebelum pengeluaran lainnya.
Alokasi Ideal:
- Dana Darurat: 10-15% dari penghasilan (prioritas utama)
- Tabungan Tujuan: 10-15% (untuk rumah, kendaraan, liburan, dll)
- Investasi Jangka Panjang: 10-20% (untuk pensiun, pendidikan anak)
Langkah 5: Buat Budget untuk “Fun Money”
Jangan lupakan kebahagiaan! Alokasikan 5-10% untuk pengeluaran menyenangkan yang tidak perlu dipertanggungjawabkan secara detail. Ini penting untuk menjaga keseimbangan hidup.
Contoh Tabel Anggaran Bulanan
| Kategori | Jumlah (Rp) | Persentase |
|---|---|---|
| PENGHASILAN TOTAL | 16.000.000 | 100% |
| TABUNGAN & INVESTASI | ||
| Dana Darurat | 1.600.000 | 10% |
| Tabungan DP Rumah | 2.000.000 | 12,5% |
| Investasi Reksa Dana | 1.600.000 | 10% |
| PENGELUARAN TETAP | ||
| Sewa Rumah | 3.500.000 | 21,9% |
| Cicilan Motor | 1.200.000 | 7,5% |
| Asuransi Kesehatan | 800.000 | 5% |
| Listrik & Air | 400.000 | 2,5% |
| Internet | 300.000 | 1,9% |
| Dana Orang Tua | 1.000.000 | 6,3% |
| PENGELUARAN VARIABEL | ||
| Belanja Bulanan | 2.000.000 | 12,5% |
| Transportasi | 600.000 | 3,8% |
| Makan di Luar | 500.000 | 3,1% |
| Pulsa & Paket Data | 200.000 | 1,3% |
| FUN MONEY | ||
| Hiburan & Hobi | 300.000 | 1,9% |
| TOTAL PENGELUARAN | 15.500.000 | 96,9% |
| SISA/BUFFER | 500.000 | 3,1% |
Catatan Visual: Buat pie chart atau infografik dari tabel ini untuk visualisasi yang lebih mudah dipahami. Gunakan aplikasi seperti Canva atau Excel untuk membuat visualisasi yang menarik.
Strategi Mengelola Dana Darurat untuk Pasangan Baru
Dana darurat adalah prioritas nomor satu untuk pasangan yang baru menikah. Ini adalah jaring pengaman finansial Anda saat situasi tak terduga terjadi.
Berapa Jumlah Ideal Dana Darurat?
Untuk pasangan yang baru menikah, dana darurat yang ideal adalah:
- Minimum: 6 bulan pengeluaran bulanan
- Ideal: 9-12 bulan pengeluaran bulanan
- Maksimal: 12-18 bulan (jika kedua pasangan bekerja di sektor yang volatile)
Contoh Perhitungan: Jika pengeluaran bulanan Anda Rp 10.000.000, maka dana darurat ideal adalah:
- Minimum: Rp 60.000.000
- Ideal: Rp 90.000.000 – Rp 120.000.000
Cara Membangun Dana Darurat
- Mulai dengan Target Kecil
- Target pertama: 1 bulan pengeluaran (achievable dan memotivasi)
- Lalu tingkatkan menjadi 3 bulan, 6 bulan, dst.
- Otomatiskan Penyisihan
- Set up auto-debit di hari gajian
- Simpan di rekening terpisah agar tidak tergoda untuk dipakai
- Tempatkan di Instrumen yang Aman dan Liquid
- Deposito
- Tabungan berjangka
- Reksa dana pasar uang
- Kombinasi ketiganya
- Jangan Digunakan untuk Non-Darurat
- Dana darurat hanya untuk: kehilangan pekerjaan, sakit berat, kerusakan rumah/kendaraan major, dll.
- Bukan untuk: liburan, gadget baru, atau promo diskon!
Tips Mempercepat Pengumpulan Dana Darurat
- Alokasikan bonus atau THR langsung ke dana darurat
- Gunakan metode challenge (misalnya 52 weeks saving challenge)
- Alihkan pengeluaran impulsif ke tabungan darurat
- Cari side hustle untuk income tambahan
Mengelola Hutang dengan Bijak dalam Rumah Tangga Baru
Jika Anda atau pasangan membawa hutang ke dalam pernikahan, penting untuk mengelolanya dengan strategi yang tepat agar tidak mengganggu keuangan rumah tangga.
Prioritas Melunasi Hutang
Gunakan metode Debt Avalanche atau Debt Snowball:
Debt Avalanche (Matematis):
- Bayar hutang dengan bunga tertinggi dulu
- Lebih menghemat pembayaran bunga total
- Cocok untuk yang rasional dan sabar
Debt Snowball (Psikologis):
- Bayar hutang dengan saldo terkecil dulu
- Memberikan motivasi dari “quick wins”
- Cocok untuk yang butuh dorongan mental
Aturan Menambah Hutang Baru
Sebelum mengambil hutang baru (KPR, kredit kendaraan, dll), pastikan:
- Debt to Income Ratio di bawah 30%
- Total cicilan bulanan tidak melebihi 30% dari penghasilan bersih
- Dana Darurat Sudah Terpenuhi
- Minimal 6 bulan pengeluaran sudah tersedia
- Diskusi dan Kesepakatan Bersama
- Kedua pasangan setuju dan memahami implikasinya
- Hutang Produktif, Bukan Konsumtif
- Prioritaskan hutang untuk aset yang nilainya naik (rumah)
- Hindari hutang untuk lifestyle (gadget, liburan)
Peringatan: Jangan pernah menggunakan kartu kredit untuk menutupi kebutuhan bulanan. Ini tanda bahwa anggaran Anda bermasalah dan perlu direview ulang.
Tips Menabung dan Investasi untuk Tujuan Finansial Bersama
Setelah dana darurat terpenuhi dan hutang terkontrol, saatnya fokus pada tabungan dan investasi untuk mewujudkan impian bersama.
Tentukan Tujuan Finansial Berdasarkan Jangka Waktu
1. Tujuan Jangka Pendek (1-3 tahun):
- Dana liburan
- Beli perabot rumah
- Gadget atau elektronik
- Emergency fund tambahan
Instrumen: Tabungan biasa, deposito, reksa dana pasar uang
2. Tujuan Jangka Menengah (3-5 tahun):
- DP rumah atau renovasi
- DP kendaraan
- Dana modal usaha
- Dana pendidikan anak (jika sudah punya/merencanakan)
Instrumen: Deposito, reksa dana campuran, emas
3. Tujuan Jangka Panjang (5+ tahun):
- Dana pensiun
- Dana pendidikan anak (kuliah)
- Pelunasan KPR lebih cepat
- Financial freedom
Instrumen: Reksa dana saham, properti investasi, saham blue chip
Strategi Alokasi Investasi
Gunakan prinsip diversifikasi:
- 30% – Low Risk: Deposito, reksa dana pasar uang
- 50% – Medium Risk: Reksa dana campuran, emas, obligasi
- 20% – High Risk: Reksa dana saham, saham individual
Link Internal Suggestion:
Tools dan Aplikasi untuk Mempermudah Tracking
Manfaatkan teknologi untuk memudahkan pengelolaan keuangan:
- Aplikasi Budgeting:
- Money Lover
- Wallet by BudgetBakers
- Finansialku
- Aplikasi Investasi:
- Bibit (reksa dana)
- Stockbit (saham)
- Bareksa (reksa dana)
- Spreadsheet Template:
- Google Sheets dengan template budget
- Excel dengan formula otomatis
- Bank Digital dengan Fitur Budgeting:
- Banyak bank digital sudah punya fitur expense tracking otomatis
Menghindari Konflik Keuangan dalam Rumah Tangga
Bahkan dengan anggaran yang sempurna, konflik keuangan masih bisa terjadi. Berikut cara mengantisipasinya:
Penyebab Umum Konflik Finansial
- Perbedaan Nilai dan Prioritas
- Salah satu menganggap penting menabung, yang lain lebih suka menikmati hidup
- Ketidaktransparanan
- Menyembunyikan pembelian atau hutang
- Ketidakadilan dalam Kontribusi
- Merasa salah satu pihak mengeluarkan lebih banyak
- Pengeluaran Impulsif
- Belanja tanpa diskusi terlebih dahulu
- Ekspektasi yang Tidak Realistis
- Mengharapkan lifestyle mewah dengan penghasilan terbatas
Cara Mengatasi dan Mencegah Konflik
1. Buat Aturan Main yang Jelas
- Berapa batas pembelian yang perlu didiskusikan dulu? (Misalnya: di atas Rp 500.000)
- Bagaimana keputusan finansial besar diambil?
2. Schedule Financial Date Rutin
- Sebulan sekali, duduk bersama review keuangan
- Buat suasana santai, jangan seperti interogasi
- Rayakan pencapaian finansial sekecil apapun
3. Respek pada “Fun Money” Masing-masing
- Setiap orang berhak punya uang yang tidak perlu dipertanggungjawabkan
- Tidak boleh mengkritik bagaimana pasangan menggunakan fun money-nya
4. Fokus pada “We” bukan “I vs You”
- Gunakan bahasa “keuangan kita” bukan “uangku” atau “uangmu”
- Lihat masalah finansial sebagai tantangan tim
5. Belajar Kompromi
- Tidak semua keinginan bisa terpenuhi sekaligus
- Prioritaskan yang penting, nego yang kurang penting
6. Pertimbangkan Financial Counselor
- Jika konflik terus berlanjut, konsultasi dengan perencana keuangan profesional
- Pihak ketiga yang netral bisa membantu menemukan solusi
Quote Inspiratif: “Pernikahan yang sukses bukan tentang menemukan pasangan yang sempurna, tetapi tentang belajar mengelola ketidaksempurnaan bersama-sama—termasuk dalam hal keuangan.”
Menyesuaikan Anggaran Saat Terjadi Perubahan Hidup
Hidup selalu dinamis, begitu juga dengan keuangan rumah tangga. Anggaran perlu disesuaikan saat terjadi perubahan besar.
Situasi yang Memerlukan Penyesuaian Anggaran
1. Salah Satu Kehilangan Pekerjaan
- Potong pengeluaran non-esensial immediately
- Gunakan dana darurat
- Cari sumber income alternatif
- Review kembali semua subscription dan membership
2. Hamil dan Persiapan Kelahiran Anak
- Mulai alokasikan dana untuk biaya persalinan
- Persiapkan budget untuk kebutuhan bayi
- Review asuransi kesehatan
- Mulai tabungan pendidikan anak
3. Promosi atau Kenaikan Gaji
- Jangan langsung upgrade lifestyle (lifestyle inflation)
- Alokasikan 50% kenaikan untuk tabungan/investasi
- 50% sisanya untuk meningkatkan kualitas hidup secara bijak
4. Pindah Kota atau Rumah
- Hitung ulang biaya hidup di lokasi baru
- Sesuaikan alokasi untuk transportasi dan akomodasi
- Review harga-harga kebutuhan pokok
5. Keadaan Darurat (Sakit, Kecelakaan)
- Aktivasi dana darurat
- Manfaatkan asuransi seoptimal mungkin
- Pause dulu investasi jangka panjang jika perlu
- Fokus pada pemulihan dan stabilitas
Prinsip Fleksibilitas dalam Budgeting
- Review Quarterly: Evaluasi anggaran setiap 3 bulan
- Adjust but Don’t Abandon: Sesuaikan angka, tapi jangan tinggalkan sistem
- Learn from Mistakes: Kalau budget bulan ini meleset, pelajari kenapa dan perbaiki bulan depan
- Celebrate Progress: Apresiasi setiap milestone yang tercapai
FAQ – Pertanyaan Umum tentang Anggaran Keuangan Pasangan Baru Menikah
1. Apakah harus menggabungkan semua rekening setelah menikah?
Tidak harus. Sistem keuangan yang terbaik adalah yang paling cocok untuk Anda berdua. Banyak pasangan modern menggunakan sistem hybrid dengan rekening bersama untuk kebutuhan rumah tangga dan rekening pribadi untuk pengeluaran individual. Yang terpenting adalah transparansi dan komunikasi, bukan format rekeningnya.
2. Bagaimana jika penghasilan kami sangat berbeda? Apakah harus berkontribusi sama besar?
Kontribusi yang adil bukan berarti sama besar secara nominal, tetapi proporsional dengan kemampuan. Misalnya, jika suami menghasilkan Rp 10 juta dan istri Rp 5 juta, kontribusi bisa 60:40 atau 65:35. Yang penting, keduanya merasa fair dan tidak ada yang merasa terbebani atau dieksploitasi. Diskusikan dan temukan formula yang nyaman untuk keduanya.
3. Berapa persentase ideal untuk “fun money” atau uang jajan pribadi?
Idealnya 5-10% dari total penghasilan untuk discretionary spending masing-masing. Jumlah ini bisa disesuaikan dengan kondisi finansial. Yang penting, jumlahnya disepakati bersama dan tidak perlu dipertanggungjawabkan secara detail. Ini adalah ruang kebebasan pribadi dalam kebersamaan finansial.
4. Kapan waktu yang tepat untuk mulai investasi setelah menikah?
Urutan prioritasnya:
- Lunasi hutang konsumtif (kartu kredit, KTA dengan bunga tinggi)
- Bangun dana darurat minimal 6 bulan pengeluaran
- Baru mulai investasi untuk tujuan jangka menengah dan panjang
Jangan terburu-buru investasi sebelum fondasi keuangan kokoh. Namun, untuk instrumen seperti reksa dana pasar uang yang liquid dan low risk, bisa mulai kapan saja bahkan sambil membangun dana darurat.
5. Bagaimana cara mengajak pasangan yang boros untuk lebih disiplin?
Hindari pendekatan menggurui atau mengkritik. Coba strategi ini:
- Tunjukkan goal bersama yang menarik (rumah impian, liburan ke luar negeri)
- Gambarkan visualisasi progres tabungan dengan chart atau tracker
- Libatkan dalam proses budgeting agar merasa ownership
- Berikan apresiasi untuk setiap perubahan positif sekecil apapun
- Lead by example dengan disiplin sendiri
Ingat, perubahan perilaku finansial butuh waktu dan kesabaran.
6. Apakah perlu menggunakan jasa financial planner untuk pasangan muda?
Tidak wajib, tetapi sangat membantu terutama jika:
- Anda berdua tidak punya background finansial
- Sudah mencoba tapi terus konflik tentang uang
- Punya tujuan finansial kompleks (bisnis, properti, multiple streams of income)
- Ingin optimasi pajak dan asuransi
Financial planner yang baik bisa memberikan perspektif objektif dan strategi yang customized. Biaya konsultasi biasanya Rp 1-3 juta untuk sesi comprehensive, tapi bisa menghemat jutaan dalam jangka panjang.
7. Bagaimana mengelola keuangan jika salah satu pasangan tidak bekerja (full-time homemaker)?
Yang tidak bekerja bukan berarti tidak berkontribusi—pekerjaan rumah tangga memiliki nilai ekonomi yang besar. Beberapa pendekatan:
- Equal Partnership: Semua penghasilan adalah milik bersama, keduanya punya akses dan hak yang sama
- Salary for Homemaker: Alokasikan sejumlah uang sebagai “gaji” untuk yang mengurus rumah
- Joint Decision Making: Semua keputusan finansial dibuat bersama
Yang terpenting, jangan sampai ada yang merasa inferior atau superior karena status pekerjaan.
Kesimpulan: Mulai Perjalanan Finansial yang Solid Bersama Pasangan
Membuat anggaran keuangan untuk pasangan baru menikah memang memerlukan komitmen, komunikasi, dan konsistensi. Namun, investasi waktu dan energi di awal ini akan memberikan return yang luar biasa berupa kedamaian finansial, tercapainya tujuan bersama, dan rumah tangga yang harmonis.
Ingatlah bahwa tidak ada sistem yang sempurna dari awal. Anda berdua akan terus belajar, menyesuaikan, dan berkembang bersama. Yang terpenting adalah:
✓ Komunikasi terbuka dan jujur tentang uang sejak awal
✓ Membuat sistem yang sesuai dengan nilai dan kepribadian Anda berdua
✓ Prioritaskan dana darurat sebelum yang lain
✓ Tetapkan tujuan bersama yang memotivasi
✓ Review dan evaluasi secara berkala
✓ Fleksibel dalam menghadapi perubahan
✓ Saling support dalam perjalanan finansial ini
Jangan menunda lagi untuk memulai perencanaan keuangan Anda. Semakin cepat dimulai, semakin cepat Anda merasakan manfaatnya. Mulai bangun fondasi finansial yang kokoh untuk masa depan keluarga Anda.
Mulai sekarang, wujudkan impian finansial bersama pasangan! 💑💰



