Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa harga saham bisa bergerak naik turun begitu cepat, bahkan ketika tidak ada berita penting? Atau mengapa saat Anda ingin membeli saham, tiba-tiba harganya melompat naik? Di balik semua pergerakan harga yang tampak acak itu, ada sosok yang bekerja di belakang layar: market maker. Mereka adalah pemain kunci yang mengatur aliran transaksi, menciptakan likuiditas, dan ironisnya, bisa menjadi lawan tanding Anda dalam setiap trading yang dilakukan.
Market maker bukanlah sosok misterius atau organisasi rahasia. Mereka adalah perusahaan sekuritas atau lembaga keuangan yang memiliki peran resmi dalam menjaga pasar tetap berjalan lancar. Namun, cara kerja mereka sering kali membuat investor ritel berada di posisi yang kurang menguntungkan. Memahami perilaku market maker bukan hanya soal menambah pengetahuan, tetapi juga strategi survival dalam dunia trading yang penuh persaingan ini.
Apa Itu Market Maker dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Market maker adalah entitas atau perusahaan yang berkomitmen untuk selalu siap membeli dan menjual saham tertentu pada harga yang telah ditentukan. Bayangkan mereka sebagai “toko” yang selalu buka 24/7, siap membeli barang dari Anda (meskipun dengan harga lebih murah) dan menjual barang kepada Anda (dengan harga lebih mahal). Inilah esensi dari fungsi mereka: menciptakan likuiditas di pasar.
Fungsi Utama Market Maker dalam Ekosistem Pasar Modal
Market maker memiliki beberapa fungsi penting yang membuat pasar modal bisa beroperasi dengan efisien:
Menyediakan likuiditas: Mereka memastikan selalu ada pembeli dan penjual untuk saham tertentu, sehingga Anda tidak perlu menunggu berjam-jam untuk mengeksekusi order.
Menetapkan harga bid dan ask: Market maker menentukan harga beli (bid) dan harga jual (ask), dengan selisih yang disebut spread.
Mengurangi volatilitas ekstrem: Dengan terus menerus melakukan transaksi, mereka membantu menstabilkan harga saham.
Memfasilitasi price discovery: Proses menemukan harga wajar sebuah saham melalui mekanisme penawaran dan permintaan.
Namun, di balik fungsi mulia ini, market maker juga adalah entitas bisnis yang mencari keuntungan. Dan keuntungan mereka sering kali datang dari trader ritel seperti Anda.
Perbedaan Market Maker dengan Broker dan Dealer
Banyak investor pemula yang bingung membedakan antara market maker, broker, dan dealer. Berikut penjelasan sederhananya:
Market Maker adalah pihak yang bertransaksi untuk akun mereka sendiri. Mereka membeli saham untuk disimpan dalam inventory dan menjualnya kembali untuk mendapat profit dari spread. Mereka mengambil risiko kepemilihan saham.
Broker hanya memfasilitasi transaksi antara pembeli dan penjual. Mereka tidak memiliki saham sendiri, hanya menerima komisi dari setiap transaksi yang difasilitasi.
Dealer mirip dengan market maker, tetapi tidak memiliki kewajiban untuk selalu menyediakan likuiditas. Mereka bertransaksi untuk akun sendiri tetapi tidak wajib selalu siap membeli atau menjual.
Di Indonesia, beberapa perusahaan sekuritas besar berperan sebagai market maker untuk saham-saham tertentu, terutama saham-saham likuid yang masuk dalam indeks LQ45 atau IDX30.
Tips Penting: Memahami perbedaan ketiga entitas ini akan membantu Anda memilih platform trading yang tepat dan memahami struktur biaya yang Anda bayar dalam setiap transaksi.
Strategi dan Perilaku Market Maker yang Perlu Anda Waspadai
Market maker menggunakan berbagai strategi sophisticated untuk menghasilkan profit. Memahami strategi ini akan membantu Anda menjadi trader yang lebih cerdas dan tidak mudah terjebak.
Profit dari Bid-Ask Spread
Cara paling mendasar market maker menghasilkan uang adalah dari spread, yaitu selisih antara harga bid (harga beli) dan ask (harga jual). Misalnya, sebuah saham memiliki bid Rp5.000 dan ask Rp5.050. Market maker membeli dari Anda di Rp5.000 dan menjual ke orang lain di Rp5.050, langsung mendapat profit Rp50 per saham.
Untuk saham yang sangat likuid dengan volume trading tinggi, spread bisa sangat kecil (bahkan hanya Rp5-10 per saham). Namun, dengan volume jutaan saham per hari, keuntungan total bisa mencapai ratusan juta rupiah. Untuk saham-saham kecil dengan likuiditas rendah, spread bisa mencapai 2-5%, yang sangat merugikan trader ritel.
Contoh Perhitungan Spread:
| Jenis Saham | Bid | Ask | Spread | Spread % |
|---|---|---|---|---|
| Blue Chip (BBCA) | Rp10.000 | Rp10.025 | Rp25 | 0.25% |
| Lapis Kedua | Rp2.000 | Rp2.050 | Rp50 | 2.5% |
| Saham Gorengan | Rp150 | Rp160 | Rp10 | 6.67% |
Dari tabel di atas, Anda bisa melihat bahwa spread persentase untuk saham gorengan bisa mencapai lebih dari 25 kali lipat dibanding saham blue chip. Ini adalah salah satu alasan mengapa trading saham dengan kapitalisasi kecil sangat berisiko bagi investor ritel.
Order Flow Trading dan Payment for Order Flow
Salah satu kontroversi terbesar dalam dunia trading modern adalah praktik payment for order flow (PFOF). Ini adalah skema di mana broker menjual informasi order pelanggan mereka kepada market maker. Dengan informasi ini, market maker tahu posisi dan niat trader ritel, memberi mereka keuntungan signifikan.
Bayangkan Anda bermain poker tetapi lawan Anda bisa melihat kartu Anda. Itulah yang terjadi dengan PFOF. Market maker bisa melihat bahwa ada tekanan beli besar dari trader ritel untuk saham tertentu, lalu mereka akan menaikkan harga ask sebelum order Anda tereksekusi.
Di Amerika Serikat, praktik ini legal dan menjadi model bisnis utama broker tanpa komisi seperti Robinhood. Di Indonesia, regulasi PFOF belum sejelas di AS, tetapi praktik serupa dalam bentuk yang berbeda tetap ada.
Strategi Stop Loss Hunting
Ini adalah salah satu perilaku market maker yang paling membuat frustrasi trader ritel. Stop loss hunting terjadi ketika market maker sengaja menggerakkan harga ke level di mana banyak stop loss order terkonsentrasi, memicu eksekusi massal, lalu harga kembali ke arah semula.
Contoh konkret: Saham XYZ bergerak di range Rp2.000-Rp2.100. Market maker melihat ada banyak stop loss order di level Rp1.950. Mereka kemudian menjual dalam volume besar untuk menurunkan harga ke Rp1.950, memicu semua stop loss, lalu segera membeli kembali saham-saham tersebut dengan harga murah. Harga pun kembali naik ke Rp2.050, sementara trader ritel sudah keluar dengan loss.
Untuk menghindari jebakan ini, jangan tempatkan stop loss Anda di level yang terlalu obvious seperti angka bulat atau support/resistance yang sudah diketahui banyak orang. Gunakan level yang sedikit lebih jauh dengan pertimbangan risk-reward yang tetap masuk akal.
Spoofing dan Layering
Spoofing adalah praktik menempatkan order beli atau jual dalam jumlah besar tanpa niat untuk mengeksekusinya. Tujuannya adalah menciptakan ilusi adanya tekanan beli atau jual yang kuat, mempengaruhi sentimen trader lain.
Layering adalah variasi dari spoofing di mana market maker menempatkan multiple order pada berbagai level harga untuk menciptakan gambaran yang misleading tentang supply dan demand.
Misalnya, market maker menempatkan order beli 10 juta saham di berbagai level harga di bawah harga pasar saat ini. Ini memberi kesan bahwa ada support kuat dan demand tinggi. Trader ritel yang melihat ini akan tergoda untuk membeli. Namun, begitu harga naik sedikit, market maker membatalkan semua order palsu tersebut dan menjual kepada trader ritel yang sudah terjebak membeli di harga tinggi.
Praktik spoofing dan layering sebenarnya ilegal di banyak negara, termasuk Indonesia, tetapi sangat sulit dideteksi dan ditegakkan karena bisa diklaim sebagai “perubahan kondisi pasar”.
Peringatan: Jika Anda melihat order besar yang tiba-tiba muncul dan hilang berulang kali di order book tanpa tereksekusi, itu kemungkinan besar adalah spoofing. Jangan buat keputusan trading berdasarkan order yang belum tereksekusi.
Dampak Market Maker terhadap Investor Ritel
Sebagai investor ritel, memahami dampak keberadaan market maker terhadap investasi Anda sangat penting untuk strategi jangka panjang.
Keuntungan Kehadiran Market Maker
Tidak semua dampak market maker negatif. Ada beberapa keuntungan yang Anda nikmati:
- Eksekusi order lebih cepat: Tanpa market maker, Anda mungkin harus menunggu berjam-jam atau bahkan berhari-hari untuk menemukan counterparty untuk transaksi Anda
- Spread lebih ketat: Kompetisi antar market maker membuat spread menjadi lebih kecil, menghemat biaya transaksi Anda
- Pasar lebih stabil: Market maker mencegah volatilitas ekstrem yang bisa terjadi jika hanya ada transaksi antar investor biasa
- Price discovery lebih efisien: Harga saham lebih cepat merefleksikan informasi baru yang tersedia di pasar
Kerugian dan Risiko bagi Trader Ritel
Namun, ada juga sisi gelap yang perlu Anda waspadai:
Information asymmetry: Market maker memiliki akses ke data dan teknologi yang jauh lebih canggih daripada trader ritel.
Front running: Market maker bisa melihat order besar yang masuk dan bertransaksi lebih dulu untuk mengambil keuntungan.
Slippage yang merugikan: Ketika Anda menempatkan market order, harga eksekusi bisa jauh berbeda dari harga yang Anda lihat di layar karena market maker mengubah quote dengan cepat.
Manipulasi harga jangka pendek: Untuk saham dengan likuiditas rendah, market maker bisa dengan mudah memanipulasi harga.
Tips Penting: Investor ritel sebaiknya fokus pada investasi jangka panjang dan hindari day trading atau scalping. Dalam time frame pendek, Anda bermain melawan mesin dan algoritma canggih market maker yang hampir mustahil dikalahkan secara konsisten.
Regulasi dan Pengawasan Market Maker di Indonesia
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki peraturan khusus terkait aktivitas market maker untuk melindungi investor.
Peraturan OJK tentang Market Maker
OJK melalui peraturannya tentang transaksi efek di bursa efek, mewajibkan market maker untuk:
- Menjaga spread maksimum yang diperbolehkan untuk saham tertentu
- Memenuhi kewajiban minimum volume transaksi harian
- Memberikan laporan rutin tentang aktivitas trading mereka
- Tidak melakukan praktik manipulasi pasar yang dilarang
Perusahaan sekuritas yang ingin menjadi market maker harus mengajukan permohonan dan memenuhi persyaratan modal minimum yang ditetapkan OJK.
Mekanisme Pengawasan BEI
BEI memiliki sistem surveillance yang canggih untuk mendeteksi aktivitas trading yang mencurigakan. Sistem ini menggunakan algoritma untuk mengidentifikasi pola yang tidak wajar seperti:
- Sudden price movement tanpa berita fundamental
- Volume trading yang tidak wajar di luar rata-rata historis
- Pattern yang mengindikasikan spoofing atau layering
- Coordinated trading yang mengindikasikan manipulasi harga
Ketika sistem mendeteksi aktivitas mencurigakan, BEI akan melakukan investigasi lebih lanjut dan bisa memberikan sanksi mulai dari peringatan hingga suspensi trading.
Kasus Manipulasi Pasar yang Pernah Terjadi
Beberapa tahun terakhir, OJK dan BEI telah menindak beberapa kasus manipulasi pasar yang melibatkan market maker atau bandar saham:
Kasus pump and dump di saham gorengan: Beberapa perusahaan sekuritas terbukti melakukan pump and dump scheme pada saham-saham kecil dengan likuiditas rendah, merugikan ribuan investor ritel.
Front running dengan menggunakan informasi order: Broker yang juga bertindak sebagai market maker terbukti menggunakan informasi order nasabah untuk trading di akun perusahaan lebih dulu.
Spoofing sistematis: Beberapa trader professional terbukti melakukan spoofing secara sistematis menggunakan algoritma trading.
Sanksi yang diberikan bervariasi dari denda ratusan juta rupiah hingga pencabutan izin usaha.
Strategi Menghadapi Market Maker sebagai Investor Cerdas
Setelah memahami cara kerja market maker, berikut strategi praktis yang bisa Anda terapkan untuk melindungi investasi Anda.
Gunakan Limit Order, Bukan Market Order
Market order adalah instruksi untuk membeli atau menjual saham pada harga pasar saat itu juga. Masalahnya, “harga pasar” yang Anda lihat di layar bisa berubah dalam sepersekian detik. Market maker bisa mengubah quote mereka sebelum order Anda tereksekusi, menyebabkan slippage yang merugikan.
Limit order adalah instruksi untuk membeli atau menjual saham pada harga tertentu atau lebih baik. Dengan limit order, Anda mengontrol harga eksekusi dan tidak akan mendapat kejutan buruk. Memang ada risiko order tidak tereksekusi jika harga tidak mencapai level yang Anda tetapkan, tetapi ini jauh lebih baik daripada membeli di harga yang terlalu tinggi atau menjual di harga yang terlalu rendah.
Perbandingan Market Order vs Limit Order:
| Aspek | Market Order | Limit Order |
|---|---|---|
| Kecepatan Eksekusi | Sangat cepat | Bisa tertunda atau tidak tereksekusi |
| Kontrol Harga | Tidak ada | Penuh |
| Risiko Slippage | Tinggi | Tidak ada |
| Cocok untuk | Saham sangat likuid saat kondisi normal | Semua kondisi, terutama saham kurang likuid |
Hindari Trading pada Saat Opening dan Closing
Dua periode paling volatile dalam sesi trading adalah opening (30 menit pertama setelah pasar buka) dan closing (30 menit terakhir sebelum pasar tutup). Pada periode ini, market maker sangat aktif dan spread cenderung lebih lebar.
Volume trading juga sangat tinggi pada periode ini, membuat harga lebih mudah dimanipulasi. Sebagai investor ritel, sebaiknya tunggu hingga pasar lebih tenang (biasanya pukul 10.00-14.00 WIB) untuk melakukan transaksi.
Perhatikan Volume dan Order Book
Sebelum melakukan transaksi, selalu perhatikan:
Depth of market (DOM): Lihat berapa banyak order beli dan jual pada berbagai level harga. Ini memberi Anda gambaran tentang support dan resistance.
Bid-ask spread: Semakin kecil spread, semakin likuid saham tersebut dan semakin fair harga yang Anda dapatkan.
Volume trading: Saham dengan volume tinggi lebih sulit dimanipulasi oleh single market maker.
Sudden changes: Jika Anda melihat perubahan mendadak dalam order book (misalnya, order besar tiba-tiba muncul atau hilang), itu bisa indikasi spoofing.
Fokus pada Saham Likuid dengan Kapitalisasi Besar
Saham-saham blue chip atau saham yang masuk dalam indeks LQ45 memiliki beberapa keuntungan:
- Multiple market makers berkompetisi, membuat spread lebih ketat
- Volume trading sangat tinggi, sulit dimanipulasi oleh single entity
- Lebih transparan dengan coverage analis yang luas
- Regulasi dan pengawasan lebih ketat
Hindari saham gorengan atau saham dengan kapitalisasi pasar kecil dan volume trading rendah. Saham-saham ini sangat mudah dimanipulasi dan sering menjadi target pump and dump scheme.
Anda bisa membaca lebih lanjut tentang cara memilih saham fundamental yang kuat untuk menghindari jebakan saham spekulatif.
Investasi Jangka Panjang vs Trading Jangka Pendek
Ini adalah wisdom paling penting: dalam jangka pendek, market maker hampir selalu menang melawan trader ritel. Mereka memiliki keunggulan dalam teknologi, informasi, dan kecepatan eksekusi yang tidak mungkin Anda tandingi.
Namun, dalam jangka panjang, fundamental perusahaan yang menentukan harga saham. Market maker tidak bisa memanipulasi harga saham yang bagus untuk tetap murah selamanya, atau saham yang jelek untuk tetap mahal selamanya.
Strategi terbaik untuk investor ritel adalah:
- Fokus pada analisis fundamental perusahaan
- Beli saham perusahaan berkualitas dengan valuasi wajar
- Hold untuk jangka panjang (minimal 3-5 tahun)
- Abaikan fluktuasi harga jangka pendek
- Dollar cost averaging untuk meminimalkan risiko timing
Pelajari lebih lanjut tentang strategi dollar cost averaging untuk memaksimalkan return investasi jangka panjang Anda.
Dengan pendekatan ini, Anda tidak bermain melawan market maker, tetapi bermain bersama pertumbuhan ekonomi dan perusahaan.
Market Maker di Pasar Crypto: Fenomena Baru yang Lebih Wild
Dunia cryptocurrency menghadirkan dimensi baru dalam perilaku market maker. Berbeda dengan pasar saham yang terregulasi ketat, pasar crypto masih relatif seperti “wild west” dengan regulasi minimal.
Perbedaan Market Maker Crypto dan Saham
Market maker di pasar crypto memiliki beberapa karakteristik unik:
24/7 trading: Crypto tidak mengenal hari libur atau jam tutup, membuat market maker bekerja non-stop menggunakan algoritma.
Volatilitas ekstrem: Pergerakan harga crypto bisa mencapai 20-30% dalam sehari, memberikan profit margin yang jauh lebih besar untuk market maker.
Regulasi minimal: Banyak praktik yang ilegal di pasar saham masih legal atau grey area di pasar crypto.
Fragmentasi likuiditas: Ada ratusan exchange crypto dengan harga berbeda, market maker bisa melakukan arbitrase antar exchange.
Wash Trading dan Volume Manipulation di Crypto
Wash trading adalah praktik di mana entitas yang sama bertindak sebagai pembeli dan penjual untuk menciptakan ilusi volume trading yang tinggi. Di pasar crypto, diestimasi 50-70% dari volume trading yang dilaporkan adalah wash trading.
Market maker crypto sering melakukan wash trading untuk:
- Membuat token terlihat lebih likuid dari yang sebenarnya
- Menarik trader ritel dengan menunjukkan “momentum” palsu
- Memanipulasi ranking di situs seperti CoinMarketCap atau CoinGecko
- Memenuhi syarat listing di exchange besar yang memerlukan volume minimum
Sebagai investor crypto, Anda harus sangat skeptis terhadap volume trading yang dilaporkan dan fokus pada indikator likuiditas yang lebih reliable seperti bid-ask spread dan market depth.
Rug Pull dan Exit Scam
Praktik paling berbahaya di pasar crypto adalah rug pull, di mana developer dan market maker sebuah token berkolusi untuk memompa harga, lalu menjual semua holding mereka secara tiba-tiba, membuat harga collapse dan meninggalkan investor ritel dengan kerugian total.
Beberapa red flag yang mengindikasikan potensi rug pull:
- Token dengan liquidity yang bisa ditarik kapan saja oleh developer
- Ownership terkonsentrasi pada beberapa wallet saja
- Anonymous developer tanpa track record
- Promise return yang tidak realistis (APY 1000%+)
- Tidak ada audit smart contract dari pihak ketiga terpercaya
Peringatan Keras: Investasi di cryptocurrency, terutama altcoin dan token baru, mengandung risiko sangat tinggi termasuk kehilangan seluruh modal. Hanya investasikan uang yang Anda siap untuk kehilangan sepenuhnya.
Untuk pemahaman lebih mendalam tentang cryptocurrency, Anda bisa membaca panduan crypto untuk pemula.
Tools dan Indikator untuk Mendeteksi Aktivitas Market Maker
Ada beberapa tools dan indikator yang bisa membantu Anda mengidentifikasi aktivitas market maker dan membuat keputusan trading yang lebih informed.
Level 2 Market Data dan Time & Sales
Level 2 data menunjukkan semua bid dan ask order yang ada di order book, tidak hanya best bid dan best ask. Dengan melihat Level 2 data, Anda bisa:
- Mengidentifikasi “wall” atau order besar yang mungkin indikasi support/resistance kuat atau bisa jadi spoofing
- Melihat bagaimana market maker merespons terhadap order yang masuk
- Mendeteksi pattern abnormal yang mengindikasikan manipulasi
Time & Sales menunjukkan setiap transaksi yang terjadi secara real-time dengan detail harga, volume, dan waktu. Dengan menganalisis Time & Sales, Anda bisa melihat apakah ada aggressive buying/selling yang mendorong pergerakan harga.
Volume Profile dan Order Flow Analysis
Volume Profile menunjukkan volume trading yang terjadi pada setiap level harga. Ini membantu Anda mengidentifikasi:
Point of Control (POC): Level harga dengan volume trading tertinggi, sering menjadi magnet harga.
Value Area: Range harga di mana 70% volume trading terjadi.
High Volume Nodes dan Low Volume Nodes: Area dengan accumulation atau distribution.
Order Flow Analysis melacak aggressive buy order (order yang mengambil liquidity di ask) vs aggressive sell order (order yang mengambil liquidity di bid). Ketidakseimbangan yang signifikan bisa mengindikasikan arah pergerakan harga selanjutnya.
Indikator Teknikal yang Berguna
Beberapa indikator teknikal yang efektif untuk mendeteksi aktivitas market maker:
Volume Weighted Average Price (VWAP): Harga rata-rata tertimbang berdasarkan volume. Market maker sering menggunakan VWAP sebagai benchmark.
On Balance Volume (OBV): Mengukur akumulasi dan distribusi berdasarkan volume. Divergence antara OBV dan harga bisa mengindikasikan manipulasi.
Money Flow Index (MFI): Seperti RSI tetapi memperhitungkan volume, berguna untuk mendeteksi “smart money” flow.
Accumulation/Distribution Line: Mengidentifikasi apakah market maker sedang mengakumulasi atau mendistribusikan saham.
Pelajari lebih lanjut tentang cara membaca indikator teknikal dengan mudah untuk meningkatkan skill analisis Anda.
Platform dan Software yang Bisa Digunakan
Untuk investor Indonesia, beberapa platform yang menyediakan advanced market data:
Bloomberg Terminal (sangat mahal, untuk professional)
Trading platform dari sekuritas besar seperti Mandiri Sekuritas, BCA Sekuritas, yang menyediakan Level 2 data
TradingView untuk charting dan indikator teknikal advanced
RTI Business untuk berita dan data real-time pasar Indonesia
Untuk pasar crypto:
- TradingView dengan koneksi ke berbagai exchange
- Glassnode dan Santiment untuk on-chain analysis
- Footprint Charts untuk order flow analysis
- CryptoQuant untuk whale tracking dan exchange flow
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apakah market maker sama dengan bandar saham?
Tidak persis sama. Market maker adalah entitas resmi yang ditunjuk oleh bursa dengan kewajiban menyediakan likuiditas dan diawasi ketat oleh regulator. Bandar saham adalah istilah informal untuk pihak (bisa market maker, bisa juga bukan) yang melakukan manipulasi harga untuk keuntungan pribadi, sering kali dengan cara yang ilegal atau tidak etis. Semua bandar bisa menjadi market maker, tetapi tidak semua market maker adalah bandar.
2. Bagaimana cara mengetahui apakah suatu saham sedang dimanipulasi oleh market maker?
Beberapa tanda yang bisa Anda perhatikan: (1) Volume trading tiba-tiba melonjak tanpa berita fundamental yang jelas, (2) Harga bergerak sangat volatile dalam range sempit (zigzag), (3) Ada pattern order besar yang tiba-tiba muncul dan hilang di order book, (4) Spread melebar secara tidak wajar, (5) Harga bergerak berlawanan dengan sentimen pasar umum atau berita yang ada. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua gejala ini pasti mengindikasikan manipulasi, bisa juga karena perubahan fundamental atau sentimen pasar yang legitimate.
3. Apakah investor ritel bisa mengalahkan market maker?
Dalam trading jangka pendek (day trading, scalping), sangat sulit bagi investor ritel untuk konsisten mengalahkan market maker karena mereka memiliki keunggulan teknologi, informasi, dan kecepatan eksekusi. Namun, dalam investasi jangka panjang, investor ritel bisa “mengalahkan” market maker dengan fokus pada fundamental perusahaan. Market maker tidak bisa memanipulasi harga saham berkualitas untuk selamanya. Investor ritel yang fokus pada value investing dan buy-and-hold strategy sering kali mendapat return yang lebih baik daripada day trader professional sekalipun.
4. Apakah penggunaan algoritma trading oleh market maker adil bagi investor biasa?
Ini adalah pertanyaan etis yang kompleks. Dari perspektif efisiensi pasar, algoritma trading menciptakan likuiditas lebih baik dan spread lebih ketat, menguntungkan semua pelaku pasar. Namun, dari perspektif keadilan, jelas ada asymmetry informasi dan teknologi yang merugikan investor ritel. Solusinya bukan melarang algoritma trading (yang impossible untuk dilakukan), tetapi regulasi yang lebih ketat terhadap praktik-praktik manipulatif dan edukasi investor ritel untuk fokus pada strategi jangka panjang yang tidak berkompetisi langsung dengan algoritma.
5. Bagaimana cara memilih broker yang tidak “menjual” order saya ke market maker?
Di Indonesia, transparansi mengenai payment for order flow masih terbatas. Beberapa hal yang bisa Anda lakukan: (1) Pilih sekuritas besar dengan reputasi baik, (2) Tanyakan secara langsung apakah mereka memiliki skema PFOF atau sejenisnya, (3) Perhatikan kualitas eksekusi order Anda, apakah sering terjadi slippage atau eksekusi di harga yang jauh dari yang Anda harapkan, (4) Pilih broker yang memberikan akses ke Level 2 data dan direct market access (DMA), (5) Hindari broker yang menawarkan “zero commission” dengan spread yang sangat lebar, karena ini indikasi mereka mendapat revenue dari PFOF.
6. Apakah market maker ada di semua jenis pasar keuangan?
Ya, market maker ada di hampir semua pasar keuangan termasuk saham, obligasi, foreign exchange (forex), commodities, derivatives (options, futures), dan cryptocurrency. Bahkan di pasar yang kurang terregulasi seperti over-the-counter (OTC) market, ada dealer yang berfungsi sebagai market maker. Peran dan cara kerja mereka mungkin sedikit berbeda di setiap pasar, tetapi prinsip dasarnya sama: menyediakan likuiditas dengan mengambil profit dari spread.
7. Apa yang harus saya lakukan jika saya merasa menjadi korban manipulasi pasar?
Jika Anda memiliki bukti kuat bahwa telah terjadi manipulasi pasar yang merugikan Anda, langkah-langkahnya: (1) Kumpulkan semua bukti termasuk screenshot order book, time & sales, history transaksi, dan pergerakan harga yang tidak wajar, (2) Laporkan ke sekuritas Anda dan minta mereka untuk menginvestigasi, (3) Jika tidak mendapat respons memuaskan, ajukan pengaduan resmi ke OJK melalui sistem pengaduan konsumen OJK, (4) Anda juga bisa melaporkan ke BEI jika menyangkut aktivitas trading di bursa, (5) Konsultasikan dengan lawyer yang spesialis di bidang pasar modal jika kerugian Anda signifikan. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua kerugian trading adalah akibat manipulasi. Market risk adalah bagian normal dari investasi.
Kesimpulan: Jadilah Investor yang Lebih Cerdas dengan Memahami Market Maker
Market maker adalah bagian integral dari ekosistem pasar modal modern. Mereka menyediakan likuiditas yang membuat pasar berfungsi dengan efisien, tetapi juga memiliki keuntungan informasi dan teknologi yang signifikan dibandingkan investor ritel.
Memahami cara kerja market maker bukan berarti Anda harus menghindari pasar saham atau merasa paranoid setiap kali trading. Yang perlu Anda lakukan adalah menyesuaikan strategi investasi dengan mempertimbangkan realitas ini:
Untuk trader aktif: Gunakan limit order, hindari saham dengan likuiditas rendah, perhatikan order book dan volume profile, dan terima bahwa Anda bermain di “rumah” market maker dengan house advantage yang jelas.
Untuk investor jangka panjang: Fokus pada fundamental perusahaan, beli saham perusahaan berkualitas dengan valuasi wajar, hold untuk jangka panjang, dan abaikan noise harga jangka pendek. Dalam time frame ini, Anda tidak berkompetisi melawan market maker tetapi berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi.
Untuk semua investor: Edukasi adalah senjata terbaik Anda. Terus belajar tentang cara kerja pasar, gunakan tools dan indikator yang tersedia, dan jangan pernah investasikan uang yang Anda tidak mampu untuk kehilangan.
Pasar keuangan akan selalu memiliki pemain yang lebih besar, lebih cepat, dan lebih sophisticated daripada Anda. Tetapi dengan pengetahuan yang tepat dan strategi yang sesuai dengan situasi Anda, Anda tetap bisa mencapai tujuan finansial Anda.
Mulai sekarang, terapkan prinsip-prinsip yang telah dibahas dalam artikel ini. Review portfolio Anda, evaluasi apakah strategi trading Anda bermain melawan atau bersama dengan market maker, dan buat penyesuaian yang diperlukan. Ingat, tujuan investasi bukan mengalahkan market maker dalam permainan mereka, tetapi mencapai financial freedom dengan strategi yang sustainable dan sesuai dengan risk tolerance Anda.
Jangan lupa untuk terus belajar melalui panduan investasi pemula dan gunakan tools kalkulator investasi untuk merencanakan keuangan Anda dengan lebih baik.



