Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa ada orang yang sudah punya asuransi tapi tetap terlilit hutang saat ada kejadian darurat? Atau sebaliknya, ada yang rajin menabung dana darurat tapi akhirnya bangkrut karena biaya rumah sakit yang menggunung? Pertanyaan klasik yang sering membingungkan adalah: dana darurat atau asuransi, mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu? Keputusan ini bukan sekadar pilihan finansial biasa, melainkan fondasi yang akan menentukan seberapa kokoh benteng perlindungan keuangan Anda di masa depan.
Dalam dunia perencanaan keuangan modern, baik dana darurat maupun asuransi adalah dua pilar fundamental yang tidak bisa diabaikan. Namun, dengan keterbatasan pendapatan dan banyaknya kebutuhan finansial lainnya, memahami mana yang harus didahulukan bisa menjadi kunci untuk membangun struktur keuangan yang solid dan terhindar dari jebakan finansial yang mengintai di setiap sudut kehidupan.
Memahami Konsep Dana Darurat dan Fungsinya dalam Perencanaan Keuangan
Dana darurat adalah sejumlah uang yang disisihkan khusus untuk menghadapi situasi mendesak atau tidak terduga yang membutuhkan pengeluaran segera. Berbeda dengan tabungan biasa yang mungkin dialokasikan untuk tujuan tertentu seperti liburan atau membeli gadget, dana darurat murni diperuntukkan sebagai jaring pengaman finansial.
Apa Itu Dana Darurat?
Dana darurat merupakan simpanan likuid yang mudah dicairkan sewaktu-waktu tanpa penalti atau kerugian nilai. Idealnya, dana ini ditempatkan di instrumen yang aman seperti tabungan, deposito jangka pendek, atau reksa dana pasar uang. Karakteristik utama dana darurat adalah:
- Likuiditas tinggi: Bisa diakses kapan saja dalam waktu maksimal 1-3 hari kerja
- Risiko rendah: Tidak terpengaruh fluktuasi pasar yang signifikan
- Nilai stabil: Tidak mengalami penurunan nilai pokok
- Khusus untuk keadaan darurat: Tidak boleh digunakan untuk keperluan konsumtif
Berapa Jumlah Dana Darurat yang Ideal?
Besaran dana darurat yang direkomendasikan para perencana keuangan bervariasi berdasarkan kondisi individual:
- Untuk lajang atau belum menikah: 3-6 kali pengeluaran bulanan
- Untuk pasangan menikah tanpa anak: 6-9 kali pengeluaran bulanan
- Untuk keluarga dengan anak: 9-12 kali pengeluaran bulanan
- Untuk wiraswasta atau freelancer: 12-24 kali pengeluaran bulanan (karena pendapatan tidak tetap)
Sebagai contoh konkret, jika pengeluaran bulanan Anda Rp 5 juta dan Anda sudah menikah dengan satu anak, maka dana darurat ideal yang perlu disiapkan adalah Rp 45-60 juta. Angka ini mungkin terdengar besar, namun bisa dikumpulkan secara bertahap.
Kapan Dana Darurat Boleh Digunakan?
Dana darurat hanya boleh digunakan untuk situasi yang benar-benar mendesak dan tidak terduga, seperti:
- Kehilangan pekerjaan atau PHK mendadak
- Kerusakan kendaraan atau rumah yang memerlukan perbaikan segera
- Biaya medis darurat yang tidak tertanggung asuransi
- Kebutuhan mendesak keluarga (misalnya ada anggota keluarga yang sakit)
- Bencana alam atau keadaan force majeure
Catatan Penting: Sale besar-besaran di e-commerce, diskon gadget terbaru, atau liburan spontan BUKAN termasuk kategori darurat!
Mengenal Asuransi sebagai Proteksi Finansial Jangka Panjang
Asuransi adalah kontrak antara tertanggung (Anda) dengan perusahaan asuransi, di mana Anda membayar premi secara berkala untuk mendapatkan perlindungan finansial terhadap risiko tertentu. Berbeda dengan dana darurat yang bersifat self-funding, asuransi memberikan proteksi dengan nilai jauh lebih besar dari total premi yang dibayarkan.
Jenis-Jenis Asuransi yang Perlu Dipertimbangkan
1. Asuransi Jiwa
Memberikan santunan kepada ahli waris jika tertanggung meninggal dunia. Sangat penting bagi pencari nafkah utama keluarga (tulang punggung keluarga). Dengan premi bulanan Rp 500 ribu, Anda bisa mendapatkan uang pertanggungan hingga ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah.
2. Asuransi Kesehatan
Menanggung biaya pengobatan, rawat inap, operasi, dan perawatan medis lainnya. Dengan biaya rumah sakit yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk kasus-kasus serius, asuransi kesehatan menjadi sangat krusial.
3. Asuransi Kendaraan
Melindungi dari risiko kerusakan atau kehilangan kendaraan akibat kecelakaan, pencurian, atau bencana alam. Biaya perbaikan kendaraan atau penggantian kendaraan baru bisa menguras tabungan jika tidak memiliki asuransi.
4. Asuransi Properti
Memberikan perlindungan terhadap kerusakan rumah atau properti lainnya akibat kebakaran, banjir, gempa bumi, dan risiko lainnya.
Keuntungan Memiliki Asuransi
- Leverage finansial: Dengan premi terjangkau, mendapat proteksi bernilai besar
- Perlindungan komprehensif: Menanggung risiko yang nilainya melebihi kemampuan dana darurat
- Peace of mind: Memberikan ketenangan pikiran terhadap risiko finansial katastropik
- Perencanaan warisan: Terutama untuk asuransi jiwa, memastikan keluarga tetap terlindungi secara finansial
Pertimbangan Penting dalam Memilih Asuransi
Sebelum membeli produk asuransi, perhatikan hal-hal berikut:
- Reputasi perusahaan: Pilih perusahaan asuransi yang terpercaya dan memiliki track record claim settlement ratio yang baik
- Keterbacaan polis: Pahami dengan jelas apa saja yang ditanggung dan tidak ditanggung (exclusions)
- Kesesuaian dengan kebutuhan: Jangan membeli asuransi yang tidak sesuai dengan profil risiko Anda
- Kemampuan membayar premi: Pastikan premi tidak membebani cash flow bulanan
- Rasio premi terhadap manfaat: Bandingkan beberapa produk untuk mendapatkan value terbaik
Perbandingan Dana Darurat vs. Asuransi: Kelebihan dan Kekurangan
Untuk memahami lebih jelas perbedaan fundamental antara dana darurat dan asuransi, mari kita bandingkan kedua instrumen proteksi finansial ini:
| Aspek | Dana Darurat | Asuransi |
|---|---|---|
| Sumber Dana | Uang sendiri yang disisihkan | Premi yang dibayarkan ke perusahaan asuransi |
| Nilai Proteksi | Sebesar dana yang terkumpul | Jauh lebih besar dari total premi (leverage) |
| Fleksibilitas Penggunaan | Sangat fleksibel untuk berbagai kebutuhan darurat | Terbatas sesuai polis dan jenis risiko tertanggung |
| Likuiditas | Sangat likuid, bisa dicairkan kapan saja | Tergantung proses klaim (bisa memakan waktu) |
| Biaya | Tidak ada biaya (kecuali biaya admin minimal) | Ada premi berkala yang harus dibayar |
| Jangka Waktu | Permanen (selama tidak digunakan) | Sesuai masa polis (tahunan atau jangka panjang) |
| Risiko yang Dicakup | Semua jenis kebutuhan darurat | Hanya risiko spesifik sesuai polis |
| Kepemilikan | 100% milik Anda | Hak klaim berdasarkan kontrak polis |
Kelebihan Dana Darurat
- Kontrol penuh: Anda yang menentukan kapan dan untuk apa dana digunakan
- Tanpa proses klaim: Tidak ada formulir, dokumen, atau waiting period
- Multi-fungsi: Bisa digunakan untuk berbagai jenis keadaan darurat
- Tidak ada risiko penolakan: Dana pasti tersedia saat dibutuhkan
- Fleksibilitas tinggi: Bisa disesuaikan dengan kebutuhan yang berubah
Kekurangan Dana Darurat
- Nilai terbatas: Hanya sebesar yang berhasil dikumpulkan
- Perlu waktu untuk mengumpulkan: Tidak instant seperti asuransi
- Godaan untuk digunakan: Risiko terpakai untuk hal non-darurat
- Tidak cukup untuk risiko besar: Seperti penyakit kritis atau kecelakaan fatal
- Opportunity cost: Dana yang disimpan tidak berkembang signifikan
Kelebihan Asuransi
- Proteksi besar dengan premi kecil: Leverage finansial yang signifikan
- Melindungi dari risiko katastropik: Yang tidak mungkin ditanggung dana darurat
- Segera berlaku: Proteksi aktif setelah polis diterbitkan
- Disiplin finansial: Premi rutin membangun kebiasaan menabung
- Tax benefit: Beberapa jenis asuransi memberikan manfaat pajak
Kekurangan Asuransi
- Ada biaya: Premi harus dibayar rutin atau polis batal
- Proses klaim: Memerlukan dokumen dan verifikasi
- Risiko penolakan klaim: Jika tidak sesuai ketentuan polis
- Tidak fleksibel: Hanya menanggung risiko spesifik
- Kompleksitas produk: Tidak semua orang memahami detail polis
Strategi Membangun Dana Darurat dengan Efektif
Membangun dana darurat memerlukan komitmen dan strategi yang tepat. Berikut adalah langkah-langkah praktis untuk mengumpulkan dana darurat Anda:
Langkah 1: Hitung Kebutuhan Dana Darurat Anda
Mulailah dengan mencatat pengeluaran bulanan rutin Anda selama 3-6 bulan terakhir. Hitung rata-ratanya, lalu kalikan dengan faktor pengali sesuai status Anda:
Contoh Perhitungan:
- Pengeluaran bulanan rata-rata: Rp 6.000.000
- Status: Menikah dengan 1 anak
- Faktor pengali: 9-12 bulan
- Target dana darurat: Rp 54.000.000 – Rp 72.000.000
Langkah 2: Tentukan Timeline yang Realistis
Jangan terburu-buru. Tetapkan target jangka waktu yang masuk akal, misalnya:
- Target jangka pendek (6-12 bulan): Kumpulkan 3 bulan pengeluaran dulu
- Target jangka menengah (1-2 tahun): Kumpulkan 6 bulan pengeluaran
- Target jangka panjang (2-3 tahun): Lengkapi sampai 12 bulan pengeluaran
Langkah 3: Sisihkan Otomatis (Pay Yourself First)
Terapkan prinsip “bayar diri sendiri dulu” dengan mengatur auto-debit dari rekening gaji ke rekening dana darurat setiap tanggal gajian. Mulai dari 10-20% pendapatan, atau minimal Rp 500 ribu per bulan.
Langkah 4: Manfaatkan Windfall Income
Alokasikan bonus, THR, komisi, atau pendapatan tidak terduga lainnya langsung ke dana darurat. Ini akan mempercepat pencapaian target Anda.
Langkah 5: Pilih Instrumen yang Tepat
Tempatkan dana darurat di instrumen dengan karakteristik:
- Tabungan khusus: Untuk 1-3 bulan pengeluaran pertama (likuiditas tertinggi)
- Deposito 1-3 bulan: Untuk dana cadangan lapis kedua
- Reksa dana pasar uang: Untuk dana cadangan lapis ketiga (return lebih baik dari tabungan)
Tips Pro: Jangan campur rekening dana darurat dengan rekening sehari-hari agar tidak tergoda untuk menggunakannya sembarangan!
Langkah 6: Review dan Sesuaikan Berkala
Setiap tahun atau saat ada perubahan signifikan (naik gaji, punya anak baru, dll), evaluasi kembali kebutuhan dana darurat Anda dan sesuaikan targetnya.
Kapan Harus Prioritaskan Dana Darurat atau Asuransi?
Pertanyaan krusial ini tidak memiliki jawaban yang sama untuk semua orang. Prioritas bergantung pada berbagai faktor personal dan kondisi finansial Anda saat ini.
Prioritaskan Dana Darurat Jika:
1. Anda Baru Memulai Karir atau Fresh Graduate
Pada tahap awal karir, membangun safety net finansial adalah prioritas utama. Dana darurat 3-6 bulan pengeluaran akan memberikan ketenangan saat masih dalam masa percobaan atau mencari pekerjaan yang lebih baik.
2. Belum Memiliki Tanggungan
Jika masih lajang dan tinggal bersama orang tua, risiko finansial katastropik relatif lebih rendah. Fokus pada membangun dana darurat minimal 3 bulan pengeluaran terlebih dahulu.
3. Kondisi Keuangan Masih Labil
Jika pendapatan tidak stabil atau sering berganti pekerjaan, dana darurat menjadi sangat krusial. Bahkan perlu meningkatkan target hingga 12-24 bulan pengeluaran.
4. Sudah Memiliki Asuransi dari Kantor
Jika perusahaan sudah menyediakan asuransi kesehatan dan jiwa yang memadai, fokuskan energi finansial untuk membangun dana darurat yang solid terlebih dahulu.
5. Memiliki Hutang dengan Bunga Tinggi
Dalam beberapa kasus, melunasi hutang konsumtif berbunga tinggi sambil membangun dana darurat minimal bisa menjadi strategi yang lebih baik daripada membeli asuransi baru.
Prioritaskan Asuransi Jika:
1. Sudah Menjadi Tulang Punggung Keluarga
Jika Anda adalah pencari nafkah utama dengan tanggungan (istri/suami dan anak), asuransi jiwa menjadi SANGAT PRIORITAS. Kehilangan Anda akan menghancurkan finansial keluarga jika tidak ada proteksi.
2. Bekerja di Bidang Berisiko Tinggi
Profesi dengan risiko kecelakaan atau cedera tinggi (konstruksi, pertambangan, dll) memerlukan asuransi kesehatan dan kecelakaan diri yang memadai sejak awal.
3. Memiliki Riwayat Penyakit Keluarga
Jika ada riwayat penyakit kritis dalam keluarga (diabetes, jantung, kanker), sebaiknya beli asuransi kesehatan dan penyakit kritis selagi masih muda dan premi masih murah.
4. Usia Sudah Tidak Muda Lagi
Semakin bertambah usia, premi asuransi akan semakin mahal. Jika sudah berusia 30 tahun ke atas dan belum punya asuransi, sebaiknya segera beli sebelum terlambat atau premi menjadi tidak terjangkau.
5. Sudah Punya Dana Darurat Minimal
Jika sudah memiliki dana darurat setara 3 bulan pengeluaran, ini saatnya menambahkan layer proteksi dengan asuransi sambil terus melengkapi dana darurat hingga target ideal.
Strategi Ideal: Pendekatan Kombinasi Bertahap
Sebenarnya, pertanyaan “dana darurat vs asuransi” adalah pertanyaan yang keliru. Keduanya bukan pilihan yang saling meniadakan, melainkan dua instrumen yang saling melengkapi dalam sistem proteksi finansial yang komprehensif.
Tahap 1: Bangun Dana Darurat Mini (Bulan 1-6)
Target: Kumpulkan dana darurat minimal setara 1 bulan pengeluaran
Cara:
- Sisihkan minimal 20% pendapatan
- Potong pengeluaran tidak penting
- Jual barang-barang yang tidak terpakai
- Cari side hustle untuk income tambahan
Sumber Dana: Tabungan high-yield atau deposito 1 bulan
Pada tahap ini, fokus penuh pada membangun safety net dasar. Dengan 1 bulan dana darurat, Anda sudah punya buffer minimal untuk menghadapi kejadian tidak terduga.
Tahap 2: Tambahkan Asuransi Dasar (Bulan 7-12)
Target: Miliki asuransi kesehatan dan jiwa dasar
Produk yang Disarankan:
- Asuransi kesehatan dengan plafon minimal Rp 50-100 juta per tahun
- Asuransi jiwa term life dengan uang pertanggungan minimal 48x pengeluaran bulanan
Alokasi: 5-10% pendapatan untuk premi
Sambil terus mengisi dana darurat (target 3 bulan), mulai alokasikan sebagian pendapatan untuk premi asuransi dasar. Prioritaskan asuransi kesehatan dan jiwa murni (term life) yang preminya relatif terjangkau.
Tahap 3: Lengkapi Dana Darurat hingga 6 Bulan (Tahun 2)
Target: Dana darurat setara 6 bulan pengeluaran
Cara:
- Pertahankan auto-debit 15-20% untuk dana darurat
- Alokasikan bonus/THR 50% untuk dana darurat
- Optimalkan penempatan di reksa dana pasar uang untuk return lebih baik
Pada tahap ini, Anda sudah memiliki proteksi ganda: asuransi untuk risiko besar dan dana darurat untuk kebutuhan mendesak sehari-hari.
Tahap 4: Upgrade Asuransi & Lengkapi Dana Darurat (Tahun 3-5)
Target:
- Dana darurat 12 bulan pengeluaran
- Asuransi yang lebih komprehensif
Langkah:
- Tingkatkan plafon asuransi kesehatan
- Tambah asuransi penyakit kritis
- Pertimbangkan asuransi pendidikan anak (jika sudah punya anak)
- Asuransi kendaraan (jika punya kendaraan pribadi)
Distribusi: 60% untuk dana darurat, 40% untuk upgrade asuransi
Contoh Alokasi Pendapatan Bulanan
Misalkan gaji bersih Anda Rp 10 juta per bulan:
Tahun Pertama:
- Dana darurat: Rp 2.000.000 (20%)
- Kebutuhan hidup: Rp 6.000.000 (60%)
- Investasi/Lainnya: Rp 2.000.000 (20%)
Tahun Kedua:
- Dana darurat: Rp 1.500.000 (15%)
- Premi asuransi: Rp 800.000 (8%)
- Kebutuhan hidup: Rp 6.000.000 (60%)
- Investasi: Rp 1.700.000 (17%)
Tahun Ketiga dan Seterusnya:
- Dana darurat: Rp 1.000.000 (10%)
- Premi asuransi: Rp 1.200.000 (12%)
- Kebutuhan hidup: Rp 6.000.000 (60%)
- Investasi: Rp 1.800.000 (18%)
Penting: Angka-angka ini adalah ilustrasi. Sesuaikan dengan kondisi dan prioritas personal Anda.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
Dalam perjalanan membangun proteksi finansial, banyak orang terjebak dalam kesalahan-kesalahan berikut:
1. Menggunakan Dana Darurat untuk Hal Non-Darurat
Ini adalah kesalahan paling fatal. Sale gadget terbaru, liburan mendadak, atau membeli barang impulsif BUKAN kategori darurat. Jika dana darurat sering dipakai untuk hal-hal seperti ini, Anda tidak akan pernah memiliki proteksi yang memadai.
Solusi: Pisahkan rekening dan buat aturan ketat kapan dana darurat boleh disentuh.
2. Membeli Asuransi yang Tidak Sesuai Kebutuhan
Banyak orang terbujuk membeli asuransi unit link atau whole life dengan janji return investasi tinggi, padahal yang dibutuhkan sebenarnya adalah proteksi murni dengan premi terjangkau.
Solusi: Pahami kebutuhan proteksi Anda dengan jelas. Untuk proteksi jiwa, term life insurance biasanya lebih cost-effective. Pisahkan proteksi dengan investasi.
3. Tidak Membaca Polis dengan Teliti
Banyak klaim ditolak karena tertanggung tidak memahami exclusions (pengecualian) dalam polis. Membeli asuransi tanpa memahami detail coverage adalah seperti membeli kucing dalam karung.
Solusi: Luangkan waktu membaca polis, tanyakan hal yang tidak jelas pada agen atau customer service, dan simpan dokumen polis dengan baik.
4. Terlalu Lama Menunda
“Nanti saja kalau gaji sudah besar” atau “Tunggu tahun depan” adalah alasan klasik yang membuat orang tidak pernah memulai. Semakin lama menunda, semakin sulit membangun kebiasaan finansial yang sehat.
Solusi: Mulai dari yang kecil hari ini. Bahkan Rp 100.000 per bulan adalah permulaan yang baik.
5. Tidak Menyesuaikan dengan Perubahan Hidup
Dana darurat yang cukup saat masih lajang belum tentu cukup setelah menikah dan punya anak. Begitu pula dengan asuransi, plafon yang memadai 5 tahun lalu mungkin sudah tidak relevan dengan biaya medis saat ini.
Solusi: Lakukan financial check-up minimal setahun sekali atau saat ada life event besar (menikah, punya anak, naik jabatan, dll).
6. Over-Insurance atau Under-Insurance
Ada yang terlalu banyak asuransi hingga premi membebani cash flow, ada pula yang terlalu sedikit hingga proteksi tidak memadai.
Solusi: Gunakan rule of thumb 10-15% pendapatan untuk premi asuransi. Prioritaskan asuransi kesehatan dan jiwa terlebih dahulu sebelum membeli asuransi lainnya.
Tips Mengoptimalkan Dana Darurat dan Asuransi Secara Bersamaan
Berikut adalah strategi praktis untuk memaksimalkan kedua instrumen proteksi ini:
1. Manfaatkan Program dari Kantor
Banyak perusahaan menyediakan asuransi kesehatan untuk karyawan. Manfaatkan ini dengan maksimal dan fokuskan dana pribadi untuk membangun dana darurat terlebih dahulu. Jika coverage kantor kurang, baru pertimbangkan asuransi kesehatan pribadi tambahan.
2. Beli Asuransi Saat Masih Muda
Premi asuransi jiwa dan kesehatan jauh lebih murah di usia 20-an dibanding 30-an atau 40-an. Membeli asuransi sejak dini akan menghemat jutaan rupiah dalam jangka panjang.
Contoh Perbandingan Premi Asuransi Jiwa:
- Usia 25 tahun, UP Rp 500 juta: ±Rp 300.000/bulan
- Usia 35 tahun, UP Rp 500 juta: ±Rp 600.000/bulan
- Usia 45 tahun, UP Rp 500 juta: ±Rp 1.200.000/bulan
3. Gunakan Sistem Amplop Digital
Alokasikan pendapatan ke berbagai “amplop” digital:
- 20% Dana darurat
- 10% Premi asuransi
- 60% Kebutuhan hidup
- 10% Investasi jangka panjang
Dengan sistem ini, setiap pos finansial mendapat porsi yang jelas dan tidak saling berebut.
4. Cari Passive Income untuk Premi Asuransi
Jika memungkinkan, cari sumber pendapatan pasif (sewa kos, dividen saham, royalti, dll) yang bisa dialokasikan khusus untuk membayar premi asuransi. Dengan begitu, premi tidak membebani cash flow dari gaji utama.
5. Review dan Bandingkan Produk Secara Berkala
Pasar asuransi terus berkembang dengan produk-produk baru yang mungkin lebih sesuai dengan kebutuhan Anda. Lakukan review setiap 2-3 tahun sekali, bandingkan dengan produk lain di pasaran.
6. Gabungkan dengan Rencana Keuangan Jangka Panjang
Dana darurat dan asuransi adalah bagian dari blueprint finansial yang lebih besar. Integrasikan dengan tujuan lain seperti:
- Perencanaan dana pensiun yang memadai
- Investasi untuk masa depan di instrumen yang tepat
- Perencanaan dana pendidikan anak jika sudah berkeluarga
- Strategi membeli properti impian
- Mengelola hutang dengan bijak untuk financial freedom
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Berapa minimal dana darurat yang harus dimiliki sebelum membeli asuransi?
Minimal Anda harus memiliki dana darurat setara 1 bulan pengeluaran sebelum membeli asuransi. Namun, idealnya adalah 3 bulan pengeluaran. Dengan dana darurat minimal ini, Anda punya buffer untuk menghadapi kebutuhan mendesak kecil sambil premi asuransi tetap berjalan tanpa tersendat. Jika Anda adalah tulang punggung keluarga, pertimbangkan untuk segera memiliki asuransi jiwa dasar meskipun dana darurat belum terkumpul sempurna, lalu bangun keduanya secara paralel.
2. Apakah boleh menggunakan dana darurat untuk membayar premi asuransi?
TIDAK. Dana darurat dan alokasi premi asuransi harus terpisah. Premi asuransi adalah komitmen rutin yang seharusnya sudah dianggarkan dalam cash flow bulanan, bukan menggunakan dana darurat. Jika Anda kesulitan membayar premi, ini pertanda bahwa produk asuransi yang dipilih terlalu berat untuk kondisi keuangan saat ini. Pertimbangkan untuk menurunkan coverage atau mencari produk dengan premi lebih terjangkau.
3. Lebih baik asuransi unit link atau term life + dana darurat terpisah?
Untuk kebanyakan orang, kombinasi term life insurance + dana darurat terpisah + investasi terpisah jauh lebih menguntungkan daripada unit link. Alasannya: (1) Premi term life jauh lebih murah untuk coverage yang sama, (2) Anda punya kontrol penuh atas dana darurat, (3) Return investasi di instrumen terpisah biasanya lebih optimal karena tidak terpotong biaya-biaya asuransi. Unit link hanya cocok untuk orang yang sangat tidak disiplin dan butuh “forcing mechanism” untuk menabung.


