Saham

Cara Menghitung Valuasi Saham dengan Price to Earnings Ratio (PER): Panduan Lengkap untuk Investor Pemula

Pernahkah Anda bingung apakah harga saham yang ingin Anda beli sedang murah atau mahal? Atau mungkin Anda sering mendengar istilah "saham undervalued" tapi tidak tahu bagaimana cara menentukanya?

Akademi Investor
Akademi Investor
10 menit baca
Cara Menghitung Valuasi Saham dengan Price to Earnings Ratio (PER): Panduan Lengkap untuk Investor Pemula

Pernahkah Anda bingung apakah harga saham yang ingin Anda beli sedang murah atau mahal? Atau mungkin Anda sering mendengar istilah “saham undervalued” tapi tidak tahu bagaimana cara menentukanya? Price to Earnings Ratio (PER) adalah salah satu metrik paling populer dan mudah digunakan untuk menilai apakah sebuah saham layak dibeli atau tidak. Dengan memahami cara menghitung dan menganalisis PER, Anda bisa membuat keputusan investasi yang lebih cerdas dan menghindari membeli saham yang terlalu mahal.

Apa Itu Price to Earnings Ratio (PER)?

Price to Earnings Ratio atau yang biasa disingkat PER adalah rasio keuangan yang membandingkan harga saham suatu perusahaan dengan laba per sahamnya. Secara sederhana, PER menunjukkan berapa kali lipat investor bersedia membayar untuk setiap rupiah laba yang dihasilkan perusahaan.

Misalnya, jika sebuah saham memiliki PER 10x, artinya investor bersedia membayar Rp10.000 untuk setiap Rp1.000 laba yang dihasilkan perusahaan tersebut. PER menjadi indikator penting karena memberikan gambaran cepat tentang valuasi relatif suatu saham dibandingkan dengan pendapatannya.

Mengapa PER Penting dalam Analisis Saham?

PER menjadi salah satu metrik favorit investor karena beberapa alasan:

  • Mudah dipahami dan dihitung – Tidak memerlukan pengetahuan akuntansi yang rumit
  • Membandingkan perusahaan – Memudahkan perbandingan valuasi antar perusahaan sejenis
  • Mengidentifikasi peluang investasi – Membantu menemukan saham yang undervalued atau overvalued
  • Tersedia secara luas – Data PER mudah ditemukan di berbagai platform investasi
  • Indikator sentimen pasar – Menunjukkan ekspektasi investor terhadap pertumbuhan perusahaan

Catatan Penting: PER sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya indikator dalam mengambil keputusan investasi. Kombinasikan dengan rasio keuangan lainnya untuk analisis yang lebih komprehensif.

Rumus dan Cara Menghitung Price to Earnings Ratio

Cara menghitung PER sebenarnya sangat sederhana. Ada dua rumus yang bisa Anda gunakan:

Formula Dasar PER

Rumus 1 (Menggunakan Harga Saham):

PER = Harga Saham per Lembar รท Laba per Saham (EPS)

Rumus 2 (Menggunakan Kapitalisasi Pasar):

PER = Kapitalisasi Pasar รท Laba Bersih Tahunan

Kedua rumus ini akan menghasilkan angka yang sama, namun rumus pertama lebih sering digunakan karena lebih praktis.

Contoh Perhitungan PER yang Konkret

Mari kita lihat contoh perhitungan nyata untuk memudahkan pemahaman:

Contoh 1: PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Data per akhir 2024 (ilustrasi):

  • Harga saham: Rp8.500 per lembar
  • Laba per Saham (EPS): Rp850 per lembar

Perhitungan:

PER = Rp8.500 รท Rp850 = 10x

Artinya, investor bersedia membayar 10 kali lipat dari laba per saham BBCA.

Contoh 2: PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)

Data per akhir 2024 (ilustrasi):

  • Kapitalisasi pasar: Rp420 triliun
  • Laba bersih tahunan: Rp35 triliun

Perhitungan:

PER = Rp420 triliun รท Rp35 triliun = 12x

Cara Mencari Data EPS dan Harga Saham

Untuk menghitung PER, Anda memerlukan dua data utama:

  1. Harga Saham – Bisa dilihat di aplikasi sekuritas, website IDX, atau platform berita keuangan
  2. Laba per Saham (EPS) – Tersedia di laporan keuangan perusahaan, aplikasi trading, atau situs analisis saham seperti RTI Business atau Stockbit

Panduan Membaca Laporan Keuangan Perusahaan untuk Pemula

Interpretasi Nilai PER: Kapan Saham Dianggap Murah atau Mahal?

Setelah menghitung PER, langkah selanjutnya adalah menginterpretasikan angka tersebut. Namun, tidak ada angka absolut yang menentukan saham itu murah atau mahal.

PER Rendah: Apakah Selalu Menguntungkan?

PER rendah (umumnya di bawah 10x) bisa mengindikasikan beberapa hal:

  • Saham tersebut undervalued atau diperdagangkan di bawah nilai wajarnya
  • Pasar memiliki ekspektasi pertumbuhan rendah terhadap perusahaan
  • Perusahaan berada di industri yang mature dengan pertumbuhan terbatas
  • Ada risiko atau masalah fundamental yang membuat investor enggan membeli

Contoh: Saham-saham di sektor perbankan tradisional sering memiliki PER rendah karena pertumbuhannya yang stabil namun tidak spektakuler.

PER Tinggi: Tanda Bahaya atau Peluang?

PER tinggi (umumnya di atas 20x) bisa berarti:

  • Pasar mengharapkan pertumbuhan tinggi di masa depan
  • Saham mungkin overvalued atau harganya sudah terlalu mahal
  • Perusahaan berada di industri high-growth seperti teknologi
  • Investor sangat optimis terhadap prospek perusahaan

Contoh: Saham teknologi seperti Goto atau Bukalapak umumnya memiliki PER tinggi karena ekspektasi pertumbuhan yang besar.

Tips Investasi: Jangan hanya fokus pada angka PER. Saham dengan PER rendah belum tentu murah jika fundamentalnya buruk, dan saham dengan PER tinggi belum tentu mahal jika memiliki prospek pertumbuhan yang solid.

Tabel Panduan Interpretasi PER

Rentang PERInterpretasiKarakteristik
< 10xPotensial UndervaluedMungkin murah, perlu analisis lebih lanjut
10x – 20xValuasi WajarSesuai dengan rata-rata pasar
20x – 30xValuasi TinggiEkspektasi pertumbuhan tinggi
> 30xPotensial OvervaluedSangat optimis atau terlalu mahal
NegatifPerusahaan RugiHindari untuk pemula

Membandingkan PER Antar Perusahaan dan Sektor

Salah satu kegunaan terpenting PER adalah untuk membandingkan valuasi antar perusahaan. Namun, perbandingan harus dilakukan dengan benar.

Perbandingan Horizontal: Perusahaan Sejenis

Bandingkan PER perusahaan dengan kompetitor langsung di industri yang sama:

Contoh Sektor Perbankan (ilustrasi):

  • Bank BCA (BBCA): PER 10x
  • Bank BRI (BBRI): PER 9x
  • Bank Mandiri (BMRI): PER 8,5x
  • Bank BNI (BBNI): PER 8x

Dari data ini, BBCA memiliki PER tertinggi, yang bisa mengindikasikan bahwa pasar menilai BBCA lebih premium dibanding bank lain, mungkin karena kualitas aset yang lebih baik atau profitabilitas yang lebih tinggi.

Perbandingan Vertikal: Rata-rata Industri

Bandingkan juga PER perusahaan dengan rata-rata PER industri:

  • Sektor Perbankan: Rata-rata PER 8-12x
  • Sektor Konsumer: Rata-rata PER 15-25x
  • Sektor Teknologi: Rata-rata PER 20-40x
  • Sektor Properti: Rata-rata PER 5-10x
  • Sektor Tambang: Rata-rata PER 8-15x

Peringatan: Jangan membandingkan PER perusahaan dari sektor yang berbeda. Sektor teknologi secara natural memiliki PER lebih tinggi dibanding sektor utilitas karena karakteristik bisnis yang berbeda.

PER Forward vs PER Trailing: Mana yang Lebih Akurat?

Ada dua jenis PER yang perlu Anda ketahui:

PER Trailing (PER Historis)

PER Trailing menggunakan laba per saham dari 12 bulan terakhir atau tahun fiskal yang sudah selesai.

Kelebihan:

  • Berdasarkan data aktual yang sudah terjadi
  • Lebih objektif dan tidak spekulatif
  • Mudah diverifikasi dari laporan keuangan

Kekurangan:

  • Tidak mencerminkan kondisi terkini
  • Kurang relevan jika ada perubahan bisnis signifikan
  • Bisa misleading untuk perusahaan yang sedang bertransformasi

PER Forward (PER Proyeksi)

PER Forward menggunakan proyeksi laba per saham untuk 12 bulan ke depan.

Kelebihan:

  • Mencerminkan ekspektasi masa depan
  • Lebih relevan untuk keputusan investasi
  • Memperhitungkan perubahan kondisi bisnis

Kekurangan:

  • Berdasarkan estimasi yang bisa meleset
  • Bisa terlalu optimis atau pesimis
  • Tergantung akurasi analis

Mana yang Sebaiknya Digunakan?

Untuk analisis yang komprehensif, gunakan kedua-duanya:

  • PER Trailing untuk melihat valuasi berdasarkan kinerja nyata
  • PER Forward untuk memahami ekspektasi pasar dan prospek

Contoh Analisis Kombinasi:

PT ABC memiliki:

  • PER Trailing: 15x
  • PER Forward: 12x

Ini mengindikasikan bahwa analis memproyeksikan pertumbuhan laba, sehingga PER forward lebih rendah (lebih menarik) karena laba diharapkan naik.

Keterbatasan PER dan Rasio Pelengkap Lainnya

Meskipun PER sangat berguna, metrik ini memiliki keterbatasan yang perlu Anda pahami.

Keterbatasan Price to Earnings Ratio

  1. Tidak berlaku untuk perusahaan merugi – PER negatif tidak bisa diinterpretasikan
  2. Bisa dimanipulasi – Laba bisa direkayasa melalui praktik akuntansi tertentu
  3. Mengabaikan utang – Tidak memperhitungkan struktur modal perusahaan
  4. Tidak melihat pertumbuhan – PER tinggi bisa justified jika pertumbuhan juga tinggi
  5. Berbeda antar sektor – Sulit membandingkan perusahaan dari industri berbeda

Rasio Keuangan Pelengkap

Untuk analisis yang lebih lengkap, kombinasikan PER dengan rasio berikut:

1. PEG Ratio (Price to Earnings Growth)

PEG = PER รท Proyeksi Pertumbuhan Laba (%)
  • PEG < 1: Potensial undervalued dengan pertumbuhan bagus
  • PEG > 1: Mungkin overvalued

2. Price to Book Value (PBV)

  • Membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham
  • Berguna untuk sektor perbankan dan properti

3. Dividend Yield

  • Mengukur imbal hasil dividen
  • Penting untuk investor yang mencari passive income

4. Return on Equity (ROE)

  • Mengukur efisiensi perusahaan menghasilkan laba
  • ROE tinggi dengan PER rendah = peluang bagus

5. Debt to Equity Ratio (DER)

  • Mengukur leverage perusahaan
  • Penting untuk menilai risiko finansial

Cara Memilih Saham yang Fundamental Kuat

Strategi Investasi Berbasis PER

Setelah memahami cara menghitung dan menginterpretasi PER, berikut strategi investasi yang bisa Anda terapkan:

Strategi Value Investing

Konsep: Mencari saham dengan PER rendah yang fundamentalnya solid (undervalued).

Langkah-langkah:

  1. Screening – Cari saham dengan PER di bawah rata-rata industri
  2. Analisis fundamental – Pastikan perusahaan sehat secara finansial
  3. Cek sentimen negatif – Pahami mengapa PER-nya rendah
  4. Beli dan tahan – Tunggu hingga pasar mengakui nilai sebenarnya

Contoh Tokoh: Warren Buffett terkenal dengan strategi value investing ini.

Strategi Growth Investing

Konsep: Membeli saham dengan PER tinggi yang memiliki prospek pertumbuhan besar.

Karakteristik:

  • Fokus pada pertumbuhan pendapatan dan laba
  • Siap membayar premium untuk kualitas
  • Target jangka panjang
  • Lebih berisiko tapi potensi return lebih tinggi

Contoh Saham: Perusahaan teknologi, e-commerce, atau startup yang baru IPO

Strategi Kombinasi (GARP)

GARP (Growth at Reasonable Price) menggabungkan value dan growth investing.

Kriteria:

  • PER tidak terlalu tinggi (idealnya < 20x)
  • Pertumbuhan laba konsisten (minimal 10-15% per tahun)
  • PEG Ratio < 1,5
  • Fundamental perusahaan solid

FAQ: Pertanyaan Umum tentang PER

1. Berapa PER ideal untuk membeli saham?

Tidak ada angka PER “ideal” yang universal. PER ideal tergantung pada industri, kondisi pasar, dan pertumbuhan perusahaan. Secara umum, PER 10-20x dianggap wajar untuk perusahaan dengan pertumbuhan stabil. Namun, bandingkan selalu dengan rata-rata industri dan PER historis perusahaan tersebut.

2. Apakah PER negatif berarti saham harus dijauhi?

PER negatif terjadi ketika perusahaan mengalami kerugian. Untuk investor pemula, sebaiknya hindari saham dengan PER negatif karena menunjukkan perusahaan sedang tidak menguntungkan. Namun, investor berpengalaman kadang melihat ini sebagai peluang jika yakin perusahaan bisa turnaround.

3. Bagaimana cara mencari data PER saham di Indonesia?

Anda bisa mencari data PER melalui:

  • Aplikasi sekuritas (Ajaib, Stockbit, RTI Business)
  • Website IDX (idx.co.id)
  • Platform analisis (Market Bisnis, Investing.com)
  • Laporan analis dari berbagai sekuritas

Data PER biasanya sudah otomatis dihitung dan ditampilkan di platform-platform tersebut.

4. Apakah PER bisa digunakan untuk semua jenis saham?

PER paling efektif untuk perusahaan yang sudah profitable dan stabil. PER kurang cocok untuk:

  • Startup yang masih rugi
  • Perusahaan siklikal (pertambangan, komoditas)
  • Perusahaan dengan struktur laba tidak stabil
  • Perusahaan yang baru turnaround

Untuk kasus-kasus ini, gunakan metrik lain seperti Price to Sales atau EV/EBITDA.

5. Seberapa sering saya harus memonitor PER saham yang saya miliki?

Untuk investor jangka panjang, cek PER secara:

  • Kuartalan – Setiap laporan keuangan keluar
  • Tahunan – Review portfolio menyeluruh
  • Saat ada perubahan signifikan – Akuisisi, pergantian manajemen, dll

Tidak perlu memantau PER setiap hari karena bisa membuat Anda terlalu reaktif terhadap fluktuasi jangka pendek.

6. Bagaimana PER berubah saat pasar bull dan bear?

Saat pasar bull (naik):

  • PER cenderung mengembang (meningkat)
  • Investor lebih optimis dan bersedia bayar mahal
  • Rata-rata PER pasar bisa mencapai 20-25x

Saat pasar bear (turun):

  • PER cenderung menyusut (menurun)
  • Sentimen negatif membuat valuasi tertekan
  • Rata-rata PER pasar bisa turun ke 10-15x

7. Apakah saham dengan PER tinggi selalu berisiko?

Tidak selalu. PER tinggi bisa justified jika:

  • Perusahaan memiliki pertumbuhan laba konsisten tinggi
  • Market leader dengan competitive advantage kuat
  • Industri dengan prospek cerah
  • Track record manajemen excellent

Namun, PER sangat tinggi (> 40x) memang membawa risiko koreksi lebih besar jika ekspektasi tidak tercapai.

Kesimpulan: Maksimalkan Keputusan Investasi dengan PER

Price to Earnings Ratio adalah alat valuasi yang powerful namun sederhana untuk menilai apakah sebuah saham layak dibeli atau tidak. Dengan memahami cara menghitung PER, menginterpretasikan nilainya, dan membandingkannya dengan perusahaan sejenis, Anda sudah selangkah lebih maju dalam membuat keputusan investasi yang lebih cerdas.

Poin-poin Penting yang Perlu Diingat:

  • PER adalah rasio harga saham dibanding laba per saham
  • PER rendah belum tentu murah, PER tinggi belum tentu mahal
  • Bandingkan selalu dengan industri sejenis dan rata-rata historis
  • Gunakan PER bersama rasio keuangan lainnya untuk analisis komprehensif
  • Pahami keterbatasan PER dan konteks perusahaan

Ingat, investasi saham bukan hanya tentang angka-angka. Pemahaman mendalam tentang bisnis perusahaan, industri, dan manajemen juga sangat penting. PER adalah starting point yang bagus, tapi bukan satu-satunya faktor dalam mengambil keputusan investasi.


Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan dengan profesional keuangan sebelum membuat keputusan investasi. Data dan contoh yang digunakan bersifat ilustrasi dan mungkin berbeda dengan kondisi pasar aktual.

#analisis fundamental#Investasi Saham#investasi untuk pemula#PER#price to earnings ratio#rasio keuangan#saham overvalued#valuasi saham
Share:

Artikel Terkait

Pelajari lebih lanjut tentang topik serupa